Rabu, 22 Oktober 2014

cerpen remaja




Bersama Pelangi
            Hujan belum mau berbelas kasih padaku, Tuhan belum mau meredakan hujan . atau paling tidak, Tuhan bisa menjadikan hujan menjadi gerimis. Tapi yang kuperhatikan hujan malah semakin deraas dan aku semakin kedinginan.  Apakah  Kasih sangat mengharapkan aku mengembalikan bukunya sekarang juga? Tetapi maaf Kasih, aku tak mau membasahi bukumu. Lebih baik aku menunggu waktu yang tepat supaya bukumu tetap kering dan rapi daripada harus aku kembalikan cepat-cepat tetapi bukumun basah dan tulisanmu berubah menjadi kabur. Seperti aku menunggu untuk menyatakan cinta kepadamu, daripada aku mengambil langkah cepat tapi kamu menolaknya.

 
            Setelah sekian lama menunggu,  akhirnya Tuhan berbaik hati padaku. Hujan mulai berubah menjadi gerimis. Kasih meninggalkanku  terlebih dahulu saat bel pulang berbunyi. Padahal aku hanya ingin mengembalikan bukunya yang bersampul merah ini. Dan juga aku ingin menatap wajahnya yang cantik dengan dekat. Ah, tetapi Kasih memang pemalu.
            Kuberanikan diri menapaki teras depan rumah Kasih. Aku menuju pintu dan mencobaamengetuknya. Satu kali ketukan belum ada jawaban dari dalam rumah, dua kali ketukan juga belum ada jawaban dari rumah. Akan kucoba untuk ketiga kalinya terdengar suara kunci. Akhinya Kasih membukakan pintu untukku.
            “Hey Dit, kok nggak kabari dulu kalu mau main?” seperti biasanya Kasih bersikap ramah kepada siapapun. Suaranya yang halus dan mendamaikan hati langsung membuyarkan pikiranku. Kasih memang sangat pandai menarik perhatian.
            “Em, maaf Sih kalau aku mengganggu waktumu.” Aku masih tertunduk malu.
            “ Ya ampun kamu kehujanan, Dit? Ayo masuk dulu. Nggak baik kalau kita ngobrolnya diluar, di depan pintu gini.”
            “Kenapa nggak disini aja, Sih?” kataku sambil menunjuk dua kursi yang ada di teras.
            “Udara di luar dingin, lagian masih gerimis. Terus kamu juga habis kehujanan kan? Terus kamu juga kedinginan kan?” Ia. Ah Kasih! Kau perhatian sekali sifatmu itulah yang aku suka.
            Lantas aku menuruti permintaaan Kasih. Dingin yang kurasa tidak seberapa jika  dibandingkan pengorbananku untuk mengembalikan buku.
            “Aku ambilakan handuk dulu ya buatmu,” kata Kasih jalan begitu saja ke belakang.
            “Jangan, Sih.” Tetapi Kasih sudah terlanjur jauh berjalan. Hanya terlihat punggung yang berkaos ungu dan kuncir tinggi bagian kepala Kasih.
            “Ini, Dit. Lap badan kamu dulu,” kata Kasih seraya meberikan handuk biru kepadaku. Wajahnya yang cantik begitu sepadan dengan senyumnya yang menawan.
            “Terima kasih ya, Sih. Maaf jadi merepotkan kamu.” Aku menerima handuk dengan malu-malu. Aku hanya mengelap bagian kepala, wajah, tangan dan kakiku saja.
            Keesokan harinya ketika di dalam kelas, aku melihat Kasih tidak seperti biasanya. Kasih terlihat lebih segar dan manis. Walaupun Kasih aslinya sudah cantik, tetapi ada yang berbeda hari ini. Kira-kira apa yang membuatnya berbeda? Kasih masih tetap memakai seragam OSIS sesuai dengan aturan. Jam tangan coklatnya  juga masih setia melekat pada pergelangan tangan Kasih.  Tetapi apa yang membuat Kasih hari ini lebih manis tambah menggemaskan?
            Aku mengamati satu persatu dari kejauhan. Aku memandangnya diam-diam. Ah iya, aku baru sadar apa yang membuat Kasih begitu menarik hari ini. Kasih memiliki poni baru. Sebelumnya dia tidak berponi. Kasih lebih manis jika berponi. Aku tambah mengaggumi gadis ini.
            Selama pelajaran berlangsung, aku tidak fokus untuk memperhatikan apa yang guru ajarkan. Aku tetap saja memandangi Kasih dari kejauhan. Aku semakin mengagumi gadis ini. Dia begitu sederhana tetapi  mempunyai pesona dan aura yang begitu mematikan.
            Sesampainya dirumah aku begitu menyesal. Mengapa aku harus bertingkah bodoh seperti ini? Tidak harus aku bersikap seperti ini. Aku sungguh menyayangkan kejadian tadi siang. Sungguh aku rindu untuk bertegur sapa dengan Kasih.
            Malam harinya aku memutuska untuk mengirimkan pesan singkat kepada Kasih. Sekadar basa-basi dan mengirimkan kata mutiara.
            “senyuman mampu meringankan luka, sahabat akan selalu ada di saat kamu membutuhkannya.”
Tak lama kemudian, handphone ku bergetar. Satu pesan masuk dari Kasih.
            Dia mengirimkan balik pesan yang telah aku kirim. Lega rasannya Kasih membalas pesanku. Meskipun lama dan pesanku dikirim kembali, setidaknya Kasih mau membalas pesanku.
            Keesokan harinya aku sibuk mempersiapkan lomba karya ilmiahku. Hari ini aku harus izin tidak mengikuti pelajaran di kelas, karena ada bimbingan karya ilmiah untuk terakhir kalinya sebelum bertarung dalam laga akbar. Aku bersama dengan ketiga temanku akan ke perpustakaan sekolah. Ah, rasanya jenuh sekali berhadapan dengan buku-buku dalam waktu yang lama.
            Aku sudah terlalu jenuh berhadapan dengan buku-buku tebal. Aku melirik jam tanganku. Pukul 10.58. dari pagi aku membiarkan HP ku diam di saku celana. Ada 3 pesan masuk.
            Pertama pesan dari Andra, yang menanyakan tugasnya sudah dikerjakan belum, kedua ada pesan dari operator, dan yang terakhir pesan dari Kasih: “ selamat pagi Dita.”
            Diakhir kalimat Kasih bubuhkan emoticon smiling. Bodonya aku, kenapa nggak aku buka ponselku dari tadi? Kasih mengirim pesan sekitar 4 jam yang lalu. Aku ragu-ragu untuk membalasnya. Aku putuskan untuk membalas pesan Kasih.
            “selamat pagi, Kasih. Maaf, baru balas soalnya baru buka ponsel.”
            Tak lupa kububuhkan juga emoticon smiling. Perutku mulas menunggu pesan balasan dari gadis yang aku puja itu.
            Kasih membalas. Dia menanyakan aku sedang apa sekarang.  Secepat kilat aku membalas pesan dari Kasih.
            Dalam satu pesan aku meminta pada Kasih untuk tidak pulang terlebih dahulu setelah bel pulang. Aku ingin meminjam buku catatannya untuk yang kedua kalinya.
            Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu datang juga. Aku setengah berlari menuju kelas.  Waktu itu langit mulai mendung. Hitam kelam. Udara dingin mulai menelusuri pori-pori pada tubuhku. Aku sangat suka dengan suasana ini.
            Aku masuk ke dalam kelas, sepi. Hanya Kasih yang sedang duduk di kursi sendiri menunggu kehadiranku.
            “Hai Sih. Maaf ya lama menunggu.” Aku mendekat dan duduk di sampingnya
            “Hai Dit. Tidak apa. Toh aku juga akan memberikan sesuatau padamu.”  Detak jantungku berdetak lebih cepat. Apa gerangan yang akan Kasih berikan kepadaku?
            Kasih mengeluarkan kertas. Tadinya aku kira sesuatu yang special. Namun ternyata hanya kertas pemberitahuan untuk orang tua. Belum selesai aku mengurus keperluan dengan Kasih, tiba-tiba petir menyambar begitu jelas di langit.
            Duaarr!!! Kasih menjerit lepas. Aku yang kaget tidak tahan melihat Kasih yang ketakutan seperti itu.
            “Dit, lebih baik kita pulang sekarang sebelum hujan turun.”  Wajah Kasih sudah terlihat cemas. Dia tampak ketakutan setengah mati.
            “Tapi kalu kita pulang sekarang, ditengah jalan nanti hujan deras. Lebih baik kita menunggu hujannya sampai reda, Sih.”
            Kasih mengalah dia membenarkan apa yang aku katakana. Lagian kalau di tengah jalan hujan deras, aku tidak mau Kasih kehujanan kemudian dia sakit. Di tengah derasnya hujan aku mengajak Kasih untuk duduk di serambi depan kelas. Sembari menunggu hujan reda, Kasih menjelaskan materi hari ini. Aku semakin menggebu untuk menyatakan perasaanku pada Kasih.  Nampaknya Kasih juga menyambut perlakuanku dengan hangat.
            Jam sudah menunjukkan pukul 15.10 sudah satu jam lebih kami menunggu hujan reda. Seperti  penantianku terhadap Kasih.
            “Kasih…” aku memanggil dan mencoba merebut perhatiannya dari hujan
            “Iya Dit, kenapa?” Kasih mulai memfokuskan ke pembicaraan.
            “Apa hujan selalu menyapamu seperti aku selalu menyapamu dalam perasaan cinta?” kalimat tersebut terlontar begitu saja. Begitu tegas, lantang, dan jelas.
            “Maksud kamu apa Dit?” Kasih mengernyitkan dahinya. Dia tidak terlalu paham apa yang aku bicarakan.
            “Maksudku aku menyukaimu, Sih. Tidak hanya suka tapi aku menyayangimu dengan kesederhanaanku .”aku tertunduk begitu cepat setelah kalimat tersebut keluar dari mulutku.
            “Kamu menyukaiku?” suara Kasih semakin pelan. Kau tahu bagaimana rasanya ketika berhadapan langsung menyatakan rasa sayang kepada seorang perempuan? Itu sangat menyebalkan sekaligus seperti terjun ke lautan coklat. Manis tapi menenggelamkan.
            Aku mengangguk. Kasih memandangku cukup lama. Aku tidak sabar mendengar jawaban Kasih.
            “Perlu kamu tahu Dit, aku tidak hanya ingin sekedar menyukaimu. Tapi entah kenapa setiapa saat aku hanya ingin melihat wajahmu.” Kasih tertunduk malu.
            Aku mengubah posisiku menghadap Kasih. Kuraih kedua tangannya. Merasakan halusnya telapak tangan yang dingin. Kasih terkejut dan sempat melihat mataku dengan seksama.
            “Kasih, maukah kau menjadi kekasihku?” aku memandanginya. Satu detik terlewatkan, dua detik terlewatkan. Tiga detik dia mengangguk sembari menyunggingkan senyum termanisnya. Dalam hati aku menjerit.
            Rasanya dewa-dewi cinta beterbangan di atas kepala kami. Mengitari kami sambil menarik busur panah asmara. Aku tersenyum bahagia. Kunikamati cinta ini bersama aliran air yang turun dari helaian daun. Berbunga di hati Kasih. Kasih juga terlihat bahagia.
            Hujan mulai mereda, anehnya cuaca kembali panas. Sinar matahari memantulkan bayangannya. Aku melihat busur berwarna-warni bersinar dengan terang. Pelangi. Aku menunjuk pelangi itu pada Kasih. Betapa indahnya pelangi itu. Tak ada seorangpun mengetahui awal dan ujungnya pelangi itu. Selayaknya tidak ada yang mengetahui cinta berawal dan berakhir. Tetapi bagiku cinta tidak akan berakhir. Cinta tidak akan kadaluarsa untuk dua insan yang saling mencintai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar