Bersama
Pelangi
Hujan belum mau berbelas kasih
padaku, Tuhan belum mau meredakan hujan . atau paling tidak, Tuhan bisa
menjadikan hujan menjadi gerimis. Tapi yang kuperhatikan hujan malah semakin
deraas dan aku semakin kedinginan.
Apakah Kasih sangat mengharapkan
aku mengembalikan bukunya sekarang juga? Tetapi maaf Kasih, aku tak mau
membasahi bukumu. Lebih baik aku menunggu waktu yang tepat supaya bukumu tetap
kering dan rapi daripada harus aku kembalikan cepat-cepat tetapi bukumun basah
dan tulisanmu berubah menjadi kabur. Seperti aku menunggu untuk menyatakan
cinta kepadamu, daripada aku mengambil langkah cepat tapi kamu menolaknya.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Tuhan berbaik hati padaku. Hujan
mulai berubah menjadi gerimis. Kasih meninggalkanku terlebih dahulu saat bel pulang berbunyi.
Padahal aku hanya ingin mengembalikan bukunya yang bersampul merah ini. Dan
juga aku ingin menatap wajahnya yang cantik dengan dekat. Ah, tetapi Kasih
memang pemalu.
Kuberanikan diri menapaki teras
depan rumah Kasih. Aku menuju pintu dan mencobaamengetuknya. Satu kali ketukan
belum ada jawaban dari dalam rumah, dua kali ketukan juga belum ada jawaban
dari rumah. Akan kucoba untuk ketiga kalinya terdengar suara kunci. Akhinya
Kasih membukakan pintu untukku.
“Hey Dit, kok nggak kabari dulu kalu
mau main?” seperti biasanya Kasih bersikap ramah kepada siapapun. Suaranya yang
halus dan mendamaikan hati langsung membuyarkan pikiranku. Kasih memang sangat
pandai menarik perhatian.
“Em, maaf Sih kalau aku mengganggu
waktumu.” Aku masih tertunduk malu.
“ Ya ampun kamu kehujanan, Dit? Ayo
masuk dulu. Nggak baik kalau kita ngobrolnya diluar, di depan pintu gini.”
“Kenapa nggak disini aja, Sih?”
kataku sambil menunjuk dua kursi yang ada di teras.
“Udara di luar dingin, lagian masih
gerimis. Terus kamu juga habis kehujanan kan? Terus kamu juga kedinginan kan?”
Ia. Ah Kasih! Kau perhatian sekali sifatmu itulah yang aku suka.
Lantas aku menuruti permintaaan
Kasih. Dingin yang kurasa tidak seberapa jika
dibandingkan pengorbananku untuk mengembalikan buku.
“Aku ambilakan handuk dulu ya
buatmu,” kata Kasih jalan begitu saja ke belakang.
“Jangan, Sih.” Tetapi Kasih sudah
terlanjur jauh berjalan. Hanya terlihat punggung yang berkaos ungu dan kuncir
tinggi bagian kepala Kasih.
“Ini, Dit. Lap badan kamu dulu,”
kata Kasih seraya meberikan handuk biru kepadaku. Wajahnya yang cantik begitu
sepadan dengan senyumnya yang menawan.
“Terima kasih ya, Sih. Maaf jadi
merepotkan kamu.” Aku menerima handuk dengan malu-malu. Aku hanya mengelap
bagian kepala, wajah, tangan dan kakiku saja.
Keesokan harinya ketika di dalam
kelas, aku melihat Kasih tidak seperti biasanya. Kasih terlihat lebih segar dan
manis. Walaupun Kasih aslinya sudah cantik, tetapi ada yang berbeda hari ini.
Kira-kira apa yang membuatnya berbeda? Kasih masih tetap memakai seragam OSIS
sesuai dengan aturan. Jam tangan coklatnya
juga masih setia melekat pada pergelangan tangan Kasih. Tetapi apa yang membuat Kasih hari ini lebih
manis tambah menggemaskan?
Aku mengamati satu persatu dari
kejauhan. Aku memandangnya diam-diam. Ah iya, aku baru sadar apa yang membuat
Kasih begitu menarik hari ini. Kasih memiliki poni baru. Sebelumnya dia tidak
berponi. Kasih lebih manis jika berponi. Aku tambah mengaggumi gadis ini.
Selama pelajaran berlangsung, aku
tidak fokus untuk memperhatikan apa yang guru ajarkan. Aku tetap saja
memandangi Kasih dari kejauhan. Aku semakin mengagumi gadis ini. Dia begitu
sederhana tetapi mempunyai pesona dan
aura yang begitu mematikan.
Sesampainya dirumah aku begitu
menyesal. Mengapa aku harus bertingkah bodoh seperti ini? Tidak harus aku
bersikap seperti ini. Aku sungguh menyayangkan kejadian tadi siang. Sungguh aku
rindu untuk bertegur sapa dengan Kasih.
Malam harinya aku memutuska untuk
mengirimkan pesan singkat kepada Kasih. Sekadar basa-basi dan mengirimkan kata
mutiara.
“senyuman
mampu meringankan luka, sahabat akan selalu ada di saat kamu membutuhkannya.”
Tak
lama kemudian, handphone ku bergetar.
Satu pesan masuk dari Kasih.
Dia mengirimkan balik pesan yang
telah aku kirim. Lega rasannya Kasih membalas pesanku. Meskipun lama dan
pesanku dikirim kembali, setidaknya Kasih mau membalas pesanku.
Keesokan harinya aku sibuk mempersiapkan
lomba karya ilmiahku. Hari ini aku harus izin tidak mengikuti pelajaran di
kelas, karena ada bimbingan karya ilmiah untuk terakhir kalinya sebelum
bertarung dalam laga akbar. Aku bersama dengan ketiga temanku akan ke
perpustakaan sekolah. Ah, rasanya jenuh sekali berhadapan dengan buku-buku
dalam waktu yang lama.
Aku sudah terlalu jenuh berhadapan
dengan buku-buku tebal. Aku melirik jam tanganku. Pukul 10.58. dari pagi aku
membiarkan HP ku diam di saku celana. Ada 3 pesan masuk.
Pertama pesan dari Andra, yang
menanyakan tugasnya sudah dikerjakan belum, kedua ada pesan dari operator, dan
yang terakhir pesan dari Kasih: “ selamat
pagi Dita.”
Diakhir kalimat Kasih bubuhkan emoticon smiling. Bodonya aku, kenapa nggak aku buka ponselku dari tadi?
Kasih mengirim pesan sekitar 4 jam yang lalu. Aku ragu-ragu untuk membalasnya.
Aku putuskan untuk membalas pesan Kasih.
“selamat
pagi, Kasih. Maaf, baru balas soalnya baru buka ponsel.”
Tak lupa kububuhkan juga emoticon smiling. Perutku mulas menunggu
pesan balasan dari gadis yang aku puja itu.
Kasih membalas. Dia menanyakan aku
sedang apa sekarang. Secepat kilat aku
membalas pesan dari Kasih.
Dalam satu pesan aku meminta pada
Kasih untuk tidak pulang terlebih dahulu setelah bel pulang. Aku ingin meminjam
buku catatannya untuk yang kedua kalinya.
Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu
datang juga. Aku setengah berlari menuju kelas.
Waktu itu langit mulai mendung. Hitam kelam. Udara dingin mulai
menelusuri pori-pori pada tubuhku. Aku sangat suka dengan suasana ini.
Aku masuk ke dalam kelas, sepi.
Hanya Kasih yang sedang duduk di kursi sendiri menunggu kehadiranku.
“Hai Sih. Maaf ya lama menunggu.”
Aku mendekat dan duduk di sampingnya
“Hai Dit. Tidak apa. Toh aku juga
akan memberikan sesuatau padamu.” Detak
jantungku berdetak lebih cepat. Apa gerangan yang akan Kasih berikan kepadaku?
Kasih mengeluarkan kertas. Tadinya
aku kira sesuatu yang special. Namun ternyata hanya kertas pemberitahuan untuk
orang tua. Belum selesai aku mengurus keperluan dengan Kasih, tiba-tiba petir
menyambar begitu jelas di langit.
Duaarr!!! Kasih menjerit lepas. Aku
yang kaget tidak tahan melihat Kasih yang ketakutan seperti itu.
“Dit, lebih baik kita pulang
sekarang sebelum hujan turun.” Wajah
Kasih sudah terlihat cemas. Dia tampak ketakutan setengah mati.
“Tapi kalu kita pulang sekarang,
ditengah jalan nanti hujan deras. Lebih baik kita menunggu hujannya sampai
reda, Sih.”
Kasih mengalah dia membenarkan apa
yang aku katakana. Lagian kalau di tengah jalan hujan deras, aku tidak mau
Kasih kehujanan kemudian dia sakit. Di tengah derasnya hujan aku mengajak Kasih
untuk duduk di serambi depan kelas. Sembari menunggu hujan reda, Kasih
menjelaskan materi hari ini. Aku semakin menggebu untuk menyatakan perasaanku
pada Kasih. Nampaknya Kasih juga
menyambut perlakuanku dengan hangat.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.10
sudah satu jam lebih kami menunggu hujan reda. Seperti penantianku terhadap Kasih.
“Kasih…” aku memanggil dan mencoba
merebut perhatiannya dari hujan
“Iya Dit, kenapa?” Kasih mulai
memfokuskan ke pembicaraan.
“Apa hujan selalu menyapamu seperti
aku selalu menyapamu dalam perasaan cinta?” kalimat tersebut terlontar begitu
saja. Begitu tegas, lantang, dan jelas.
“Maksud kamu apa Dit?” Kasih mengernyitkan
dahinya. Dia tidak terlalu paham apa yang aku bicarakan.
“Maksudku aku menyukaimu, Sih. Tidak
hanya suka tapi aku menyayangimu dengan kesederhanaanku .”aku tertunduk begitu
cepat setelah kalimat tersebut keluar dari mulutku.
“Kamu menyukaiku?” suara Kasih semakin
pelan. Kau tahu bagaimana rasanya ketika berhadapan langsung menyatakan rasa
sayang kepada seorang perempuan? Itu sangat menyebalkan sekaligus seperti
terjun ke lautan coklat. Manis tapi menenggelamkan.
Aku mengangguk. Kasih memandangku cukup
lama. Aku tidak sabar mendengar jawaban Kasih.
“Perlu kamu tahu Dit, aku tidak
hanya ingin sekedar menyukaimu. Tapi entah kenapa setiapa saat aku hanya ingin
melihat wajahmu.” Kasih tertunduk malu.
Aku mengubah posisiku menghadap
Kasih. Kuraih kedua tangannya. Merasakan halusnya telapak tangan yang dingin.
Kasih terkejut dan sempat melihat mataku dengan seksama.
“Kasih, maukah kau menjadi
kekasihku?” aku memandanginya. Satu detik terlewatkan, dua detik terlewatkan.
Tiga detik dia mengangguk sembari menyunggingkan senyum termanisnya. Dalam hati
aku menjerit.
Rasanya dewa-dewi cinta beterbangan
di atas kepala kami. Mengitari kami sambil menarik busur panah asmara. Aku
tersenyum bahagia. Kunikamati cinta ini bersama aliran air yang turun dari
helaian daun. Berbunga di hati Kasih. Kasih juga terlihat bahagia.
Hujan mulai mereda, anehnya cuaca
kembali panas. Sinar matahari memantulkan bayangannya. Aku melihat busur berwarna-warni
bersinar dengan terang. Pelangi. Aku menunjuk pelangi itu pada Kasih. Betapa
indahnya pelangi itu. Tak ada seorangpun mengetahui awal dan ujungnya pelangi
itu. Selayaknya tidak ada yang mengetahui cinta berawal dan berakhir. Tetapi
bagiku cinta tidak akan berakhir. Cinta tidak akan kadaluarsa untuk dua insan
yang saling mencintai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar