Kamis, 06 November 2014

cerpen dengan tema sosial budaya



Goyangan Takdir
Ketika sang senja mulai beranjak ke peraduannya, semilir angin mulai membelai tubuhku. Dingin yang kurasakan, namun mataku tidak tetap memandang indahnya sang surya yang hampir tenggelam di pantai berpasir putih. Setelah menghilang, aku mulai beranjak dan pergi meninggalkan pantai. Kurasakan butiran pasir yang lebut di telapak kakiku yang tanpa alas. Kutinggalkan jejak langkah kaki di pasir nan lembut hingga hilang tersapu ombak dan pasirpun rata kembali. Di rumah, kurebahkan badan di tempat tidurku. Kututup mata, tertidur, terlelap, sampai kudengar bunyi ayam berkokok yang membangunkanku dari mimpi yang indah.

 
Pagi-pagi buta aku bangun, pekerjaanku setiap pagi adalah pergi ke pasar membantu ibuku. Ibuku berjualan palawija seperti ubi-ubian dan kacang-kacangan. Ubi-ubian yang kami jual adalah hasil dari kebun kami sendiri. Bapak yang menanam di ladang. Jika barang dagangan ibu sudah terjual, ia langsung menyusul bapak ke ladang, dan aku yang akan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Menyapu, mencuci, dan memasak. Apabila masakan sudah matang, aku langsung mengantarnya ke ladang karena bapak dan ibu tidak pernah makan siang di rumah. Sesekali aku membantu pekerjaan di ladang apabila sedang panen atau ada pekerjaan yang harus cepat diselesaikan. Begitulah kegiatanku sehari-hari. Sari adalah namaku. Aku hanyalah seorang gadis yang tinggal di sebuah desa yang jauh dari kota.

   
Pendidikanku hanya sampai SMA karena selain perguruan tinggi yang cukup jauh, orang tua pun tak sanggup untuk membiayaiku ke perguruan tinggi. Apabila akan melanjutkan studi harus pergi ke kota atau ke luar pulau. Teman-teman sebayaku juga bernasib sama. Oleh karena itu, sampai sekarang aku masih tinggal di desa.
“Sari… Sari… Sari…” Kudengar suara Ibu dari belakang rumah.
“Ada apa bu, kenapa teriak-teriak?”
“Bapakmu Sari, bapakmu.”
“Bapak kenapa buk?”
“Bapakmu terluka, ambilkan obat merah!”
“Ini Buk.”
Ibu langsung berlari ke ladang, aku segera menyusulnya. Ternyata kaki bapak terkena cangkul, sehingga terluka dan berdarah. Aku membantu membersihkan luka bapak dan kuberi obat merah lalu kubalut dengan kain bersih yang kubawa. Ibu membantu bapak berjalan pulang, sedangkan aku membawa peralatan makan dan alat-alat yang digunakan di ladang. Bapak beristirahat di kamar sampai tertidur pulas.
Mataku mulai merasa ngantuk, kulirik jam dinding dan jarum pendek sudah menunjuk angka sebelas. Kulihat ibu, dia masih terlihat belum ngantuk. Kuhampiri dan kubawakan secangkir teh panas manis. Berbeda dengan bapak, kalau beliau suka teh panas pahit tanpa gula.
“Kalau kau ngantuk, tidur saja Sari! Sudah larut malam, nanti Ibuk menyusul.”
“Baiklah, Bu.”
Kulangkahkan kaki menuju kamar, berbaring dan terlelap, sampai suara ayam berkokok membangunkanku. Seperti biasa, aku bangun mandi dan pergi ke pasar. Sepulang dari pasar ibu pergi ke ladang aku memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Bapak masih sakit sehingga beliau tidak pergi ke ladang. Hari ini aku diajak teman-teman di desaku untuk berwisata ke Pantai. Tapi aku tak berani bilang ke bapak, apalagi beliau masih sakit pasti membutuhkan sesuatu, dan hanya aku yang ada di rumah. Sudah kubanyangkan aku akan menghabiskan hariku di sana bermain dengan teman-teman kampungku, berlarian di atas lebutnya butiran pasir putih.
Kulihat jam dinding sudah menunjuk angka 8, hari juga sudah mulai panas. Aku gelisah, karena teman-temanku sebentar lagi pasti menghampiriku.Sepertinya bapak dari tadi memperhatikan kegelisahanku.
“Kenapa kau dari tadi mondar-mandir? Lirak-lirik jam?”
“Begina Pak, hari ini aku diajak teman-teman berwisata ke pantai.”
“Dengan anak-anak berandalan itu?”
“Mereka tidak berandalan Pak.”
“Mereka teman-teman Sari, sebenarnya mereka baik Pak.”
“Sudahlah tinggal di rumah, kau tak tahu Bapakmu sedang sakit, kau malah pergi.”
Sedih rasanya, bagaimana jika teman-teman nanti datang kesini, aku jawab apa? Apa aku pergi saja dan tak perlu bilang Bapak. Kusiapkan semua keperluan Bapak untuk sehari ini, lalu aku pergi diam-diam lewat pintu belakang. Kusiapkan makanan di meja makan, sehingga apabila bapak lapar tinggal mengambil saja. Kusiapkan juga air hangat di termos, apabila beliau ingin mandi tak perlu merebus air dulu. Dan kusiapkan beberapa obat serta perban di meja. Diam-diam aku pergi sebelum teman-teman datang ke rumahku.
Kutunggu mereka di ujung jalan. Mengapa mereka belum keihatan ya? Tak lama kemudian kudengar suara teman-temanku, mereka datang berlima.
“Sari......!”
“Lukman? Kamu ikut juga?”
“Pasti, karena aku mendengar kamu ikut, maka akupun semangat ikut.”
“Bisa aja kamu.”
Kami berenam pun berjalan menuju jalan raya, menunggu angkutan desa yang lewat, cukup lama kami menunggu maklum di desa sehingga angkutan juga jarang lewat sehingga kami harus sabar menunggu. Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengobrol sambil bercanda. Angkutan yang kami tunggu pun lewat. Kurang lebih dua jam kami di angkot karena jalannya lambat, tak jarang pula di setiap persimapangan ngetem sambil menunggu penumpang. Dari jauh sudah terlihat hamparan air laut yang hijau, tampak rata dan sepertinya tak ada batas antara langit dengan laut. Indahnya, aku sudah tak sabar lagi untuk segera tiba di pantai. Terakhir aku pergi ke pantai ketika aku masih sekolah SMA kelas X, berarti sudah empat tahun lalu.
“Pantai.....pantai.....”
“Serbu...”
Kamipun berlari menuju pantai. Semilir angin semakin menambah indahnya pantai. Ombak yang berkejar-kejaran tiada henti seolah menggambarkan kehidupan ini yang terus berjalan dan berlari. Betapa indahnya ciptaan-Mu. Sambil bermain air serta pasir yang putih sesekali kami berteriak dan berlari-larian saat ombak datang, dan menyapu rata istana buatanku dari pasir putih. Ketika aku membangun ulang istana pasir itu, tiba-tiba Lukman datang menghampiriku.
“Bagus sekali istananya.Gambaran masa depan ya?”
“Eh...Lukman, mengagetkan saja.”
Kami berdua akhirnya duduk menatap laut hijau sambil berbincang. Setelah sekian lama kami ngobrol kesana-kemari, aku mersakan kenyamanan bercerita dengannya. Namun, mengapa hati ini mulai gelisah, perasaanku mulai campur aduk, entah apa yang aku rasakan? Apakah aku mulai jatuh cinta kepadanya? Nggak mungkin, ini hanya perasaannku saja karena aku jarang bercerita dengan orang lain, selain orang tuaku. Apalagi seorang cowok. Aku juga harus sadar dia anak kepala desa yang sekarang sedang menjalankan studi di kota, sementara aku hanya tamatan SMA, pasti Lukman juga sudah punya pacar di kampus, teman-temannya pasti cantik-cantik. Lukman juga orang yang pandai dan taat beragama, banyak gadis-gadis lain yang terpesona kepadanya.
Sorot matanya begitu tajam saat memadang mataku, jantungku semakin berdetak saat dia berada di dekatku. Apakah dia menatap ke semua orang dengan tatapan mata yang tajam? Atau hanya kepadaku saja? Ah... aku teralu besar kepala. Jika dia menatapku. Sampai kami meyaksikan matahari yang singgah ke peraduannya. Kami semua pulang, untung masih ada angkutan terkahir walaupun sampai di rumah kami sudah malam.
“Dari mana saja kau Sari?” Tanya Ibu.
“Tadi Sari bermain ke pantai dengan teman-teman.”
“Mengapa kau sampai malam? Dan kau tak minta izin Bapakmu tadi. Lain kali kau harus izin kalau mau pergi. Sekarang kau mandi dan makan, sebelum kau diceramahi bapakmu.”
   
Hari sudah malam, aku terasa lelah seharian bermain di pantai. Sambil berbaring, terbayang wajah Lukman waktu bersama-sama tadi, senyumnya yang manis, matanya yang tajam membuatkau terpesona padanya. Kutertelap sambil membayangkan wajah Lukman. Tak terasa pagi yang indah telah menyambutku. Rutinitas pagi kulakukan seperti biasa. Bapak sudah sembuh dan beliau sudah pergi ke ladang sejak pagi buta.
 Sore ini aku latihan menari di rumah kepala desa, aku baru sadar di sana pasti ada Lukman, mudah-mudahan dia belum ke kota. Biasanya hari minggu sore dia ke kota karena hari Senin ada kuliah dan kembali lagi biasanya hari jumat sore. Aku dan beberapa teman sudah datang ke rumah kepala desa, disana kami berlatih sendiri sambil menunggu sang pelatih datang. Sesekali aku melongok ke paintu, melihat apakah Lukman masih ada atau sudah pergi. Namun, tak kulihat batang hidungnya sekalipun. Sepertinya Lukman memang sudah berangkat ke kota. Mengapa hati ini terasa kecewa saat aku tak bisa melihatnya.
Kekecewaanku sedikit terobati, ketika sang pelatih tari memperkenalkan tarian baru kepada kami. Sebelumnya aku pernah melihat tarian ini saat saudara sepupuku menikah. Tarian itu memang sangat indah dan menghibur.
Setelah pelatih selesai membawakan satu tarian sebagai contoh. Kami semua mulai baris sesuai posisi dan mulai berlatih menari. Walaupun agak susah, tapi sang pelatih tetap tekun mengajari kami satu persatu. Selain untuk melestarikan budaya di daerah kami, tarian ini juga dapat digunakan sewaktu-waktu apabila ada pernikahan atau saat menyambut para tamu. Seperti pejabat-pejabat.
“Gimana latihan tarinya?” Tanya Bapak
“Aku dilatih tarian baru, Pak. Tapi cukup sulit.”
“Asal kau mau berlatih pasti bisa Sari, dari pada kau keluyuran nggak jelas lebih baik kau ikut berlatih tari seperti itu kan bermanfaat.”
“Iya Pak. Aku mandi dulu Pak.”
Setiap minggu sore kami berlatih tari. Sudah beberapa tarian yang dapat kami tampilkan. Tarian yang baru pun sudah mahir kami peragakan dan pernah kami pertunjukkan saat ada pernikahan di kampung kami. Sanggar kamipun mulai dikenal di kampung-kampung lain, sehinggga kami sering diundang untuk menari pada acara pernikahan atau penyambutan para pejabat.
Kegiatanku semakin bertambah, selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sekarang aku sering diundang untuk mengisi acara dengan teman lain yang sesanggar. Suatu hari kami diundang di kampus tempat Lukman kuliah. Ohh....betapa senangnya aku mendengar berita itu. Kami diminta mengisi acara wisuda. Aku berharap di sana bertemu dengan Lukman. Ketika acara dimulai, muncullah seorang pembawa acara dari pintu samping. Betapa terkejutnya aku ketika kulihat wajah pembawa acara itu adalah Lukman.
Kurasakan jantungku semakin berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Apakah dia melihatku? Ya Tuhan...Dia tampak berwibawa sekali dengan mengenakan jas, maklumlah karena ini acara resmi. Setelah mendengar sambutan dari rektor, kami pun dipanggil oleh pembawa acara untuk tampil. Perasaan ini semakin tak menentu, selain baru pertama kali tampil dalam acara resmi seperti ini aku pun semakin salah tingkah ketika Lukman melihatku menari. Aku hanya bisa berdoa agar tarian yang kami bawakan berjalan lancar. Aku bersyukur doaku terkabul. Suara riuh dan tepuk tangan dari penonton merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Setelah acara selesai Lukman  mendekati dan menyalamiku.
“Selamat ya, tariannya bagus. Kamu juga cantik sekali hari ini.”
“Terima kasih, itu juga berkat ayah kamu yang berinisiatif mendirikan sanggar di kampung kita.”
“Kamu pulang bareng siapa?”
“Aku pulang dengan rombongan.”
“Sebenarnya aku ingin mengajak kamu pulang bareng. Apa kamu bawa ganti?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu biar aku bilang ke rombongan kalau kamu bareng aku.”
Segera aku berganti pakaian tari dengan kaos santai. Aku diboncengkan Lukman dengan menggunakan motor vespa. Sepanjang jalan aku hanya diam. Aku tidak tau harus ngomong apa? Yang ada hanyalah perasaanku yang campur aduk tak karuan. Ini kan bukan jalan menuju kampung kami, akan membawaku kemanakah Lukman? Aku hendak bertanya, tapi...akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.
“Kita mau kemana?”
“Nanti kau lihat sendiri saja.”
Aku pun tak bertanya lagi, asyik juga ya melakukan perjalanan dengan motor. Tak lama kemudian kami pun sampai di pantai yang dulu kami kunjungi bersama. Setelah dia sandarkan motornya, kami duduk di bawah pohon beralaskan tikar kecil yang selalu dia bawa di motor.
“Sudah lama aku ingin mengajakmu kesini. Tapi baru kali ini aku diberi kesempatan untuk berdua denganmu. Kamu tau apa yang aku rasakan selama ini? Sudah lama aku memendam perasaan ini untukmu, sejak kita masih sama-sama duduk di bangku SMA. Tapi baru aku ungkapan sekarang, entah kamu memiliki perasaan yang sama atau tidak. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini. Sari maukah kau jadi kekasihku?”
“Sebenarnya, sudah lama aku juga memendam perasaan yang sama. Namun, apa daya aku tak banyak berharap. Karena aku takut sakit hati, takut kalau kamu juga tak mau mencintaiku.”
“Jadi kamu menerimaku jadi pacarmu?”
Aku hanya mengangguk, Lukman memelukku erat. Pasir putih, angin, dan lautlah yang menjadi saksi cinta kita saat itu. Kami pulang bersama, Lukman mengantarkanku sampai rumah. Betapa indahnya hidup ini. Sungguh aku sangat bahagia. Segala sesuatu yang aku impikan kini telah menjadi kenyataan. Semua terasa indah, sungguh indah.
Kebahagiaan itu tiba-tiba sirna ketika orang tuaku mengetahui bahwa aku berpacaran dengan Lukman. Orang tuaku melarang kami berpacaran dengan alasan adat yang harus dijunjung tinggi. Aku kecewa, sangat kecewa ketika mendengar itu. Setiap daerah pasti terdapat adat istiadat yang berbeda-beda, begitu pula di tempatku.
“Kenapa Bapak melarangku berhubungan dengan Lukman?”
“Karena kamu tak sederajat dengannya. Dia anak orang terpandang dan berpendidikan tinggi, sementara kamu hanya anak seorang petani dan hanya tamatan SMA.”
“Tapi, Pak. Cinta tidak mengenal derajat dan tingkat pendidikan?”
“Tapi bapak tetap tidak merestui, mau ditaruh di mana muka Bapak? Bagaimana pendapat orang, pasti semua orang akan meremehkan kita.”
“Aku mohon Pak, aku sangat mencintai Lukman.”
“Dengan apa kita akan menyiapkan pernikahan? Menjual ladang? Lalu orang tuamu harus kerja di mana? Nganggur? Mengharap belas kasihan dari besan?”
Aku menyadari bahwa keluargaku memang hanya pas-pasan secara materi. Pendapatan sehari-hari memang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Aku juga masih ingat ketika aku masih sekolah. Bapak sering meminjam uang kepada tetangga untuk membayar SPP. Kemudian beliau baru membayar ketika panen. Sering itu dilakukan tak hanya untuk membayar SPP untuk kebutuhan yang lain juga. Aku sedih, tapi aku juga tak mau mengorbankan perasaanku.
Aku menemui Lukman di sanggar karena ini hari sabtu, aku tau Lukman pasti di rumah. Kudapati dia sedang membaca buku dan kumendekatinya. Kuceritakan semua yang kualami selama semiggu ini. Lukman hanya terdiam mendengar ceritaku, aku menyerahkan semuanya ke Lukman, apapun resikonya. Tapi Lukman juga ingin mempertahankan hubungan kita.
“Setelah aku lulus sarjana, aku akan bekerja. Dan hasil pendapatanku kita tabung, setelah terkumpul kita gunakan untuk menyiapkan pernikahan. Bagaimana pendapatmu?”
“Mungkin itu semua memang mudah kita rencanakan, tapi kita nggak tahu, bagaimana nantinya? Apakah orang tuamu setuju?”
“Aku nggak tau, kamu juga tau kalau orang tuaku juga orang yang keras terhadap pendirian.”
“Benarkan? Mungkin semua yang kita rencanakan kini hanya kenangan saja.”
“Aku pulang saja Lukman.”
“Kenapa?”
“Aku ingin menenangkan pikiran.”
Terlalu sakit menerima kenyataan ini. Sepertinya aku tak sanggup lagi setiap hari mendengar ceramahan bapak dan ibu. Aku ingin pergi. Sempat terpikir di benakku, seandainya aku pergi merantau ke luar kota dan aku melupakan Lukman saja. Daripada aku menahan rindu terus menerus seperti ini namun aku selalu dilarang oleh orang tua. Namun, pikiran itu tiba-tiba kuurungkan ketika aku mengingat jasa kedua orang tuaku yang telah membesarkanku hingga aku menjadi seperti ini.
   
Setahun kemudian, aku menjadi orang yang lebih berguna. Tak lagi memikirkan masalah pribadiku saja. Aku sudah bisa menari dengan baik dan dipercaya untuk melatih tari di daerahku. Beberapa lomba sudah kuikuti, dan tak sedikit juga yang aku menangkan. Melalui budaya daerah inilah kebudayaan Indonesia menjadi semakin kaya. Aku tersenyum bangga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar