Goyangan Takdir
Ketika sang senja mulai beranjak ke
peraduannya, semilir angin mulai membelai tubuhku. Dingin yang kurasakan, namun
mataku tidak tetap memandang indahnya sang surya yang hampir tenggelam di
pantai berpasir putih. Setelah menghilang, aku mulai beranjak dan pergi
meninggalkan pantai. Kurasakan butiran pasir yang lebut di telapak kakiku yang
tanpa alas. Kutinggalkan jejak langkah kaki di pasir nan lembut hingga hilang
tersapu ombak dan pasirpun rata kembali. Di rumah, kurebahkan badan di tempat
tidurku. Kututup mata, tertidur, terlelap, sampai kudengar bunyi ayam berkokok
yang membangunkanku dari mimpi yang indah.
Pagi-pagi buta aku bangun,
pekerjaanku setiap pagi adalah pergi ke pasar membantu ibuku. Ibuku berjualan
palawija seperti ubi-ubian dan kacang-kacangan. Ubi-ubian yang kami jual adalah
hasil dari kebun kami sendiri. Bapak yang menanam di ladang. Jika barang
dagangan ibu sudah terjual, ia langsung menyusul bapak ke ladang, dan aku yang
akan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Menyapu, mencuci, dan memasak.
Apabila masakan sudah matang, aku langsung mengantarnya ke ladang karena bapak
dan ibu tidak pernah makan siang di rumah. Sesekali aku membantu pekerjaan di
ladang apabila sedang panen atau ada pekerjaan yang harus cepat diselesaikan.
Begitulah kegiatanku sehari-hari. Sari adalah namaku. Aku hanyalah seorang gadis
yang tinggal di sebuah desa yang jauh dari kota.
⃰ ⃰ ⃰
Pendidikanku hanya sampai SMA karena
selain perguruan tinggi yang cukup jauh, orang tua pun tak sanggup untuk
membiayaiku ke perguruan tinggi. Apabila akan melanjutkan studi harus pergi ke
kota atau ke luar pulau. Teman-teman sebayaku juga bernasib sama. Oleh karena
itu, sampai sekarang aku masih tinggal di desa.
“Sari… Sari… Sari…” Kudengar suara
Ibu dari belakang rumah.
“Ada apa bu, kenapa teriak-teriak?”
“Bapakmu Sari, bapakmu.”
“Bapak kenapa buk?”
“Bapakmu terluka, ambilkan obat
merah!”
“Ini Buk.”
Ibu langsung berlari ke ladang, aku
segera menyusulnya. Ternyata kaki bapak terkena cangkul, sehingga terluka dan
berdarah. Aku membantu membersihkan luka bapak dan kuberi obat merah lalu
kubalut dengan kain bersih yang kubawa. Ibu membantu bapak berjalan pulang,
sedangkan aku membawa peralatan makan dan alat-alat yang digunakan di ladang.
Bapak beristirahat di kamar sampai tertidur pulas.
Mataku mulai merasa ngantuk, kulirik
jam dinding dan jarum pendek sudah menunjuk angka sebelas. Kulihat ibu, dia
masih terlihat belum ngantuk. Kuhampiri dan kubawakan secangkir teh panas
manis. Berbeda dengan bapak, kalau beliau suka teh panas pahit tanpa gula.
“Kalau kau ngantuk, tidur saja Sari!
Sudah larut malam, nanti Ibuk menyusul.”
“Baiklah, Bu.”
Kulangkahkan kaki menuju kamar,
berbaring dan terlelap, sampai suara ayam berkokok membangunkanku. Seperti
biasa, aku bangun mandi dan pergi ke pasar. Sepulang dari pasar ibu pergi ke
ladang aku memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Bapak masih sakit sehingga
beliau tidak pergi ke ladang. Hari ini aku diajak teman-teman di desaku untuk
berwisata ke Pantai. Tapi aku tak berani bilang ke bapak, apalagi beliau masih
sakit pasti membutuhkan sesuatu, dan hanya aku yang ada di rumah. Sudah
kubanyangkan aku akan menghabiskan hariku di sana bermain dengan teman-teman
kampungku, berlarian di atas lebutnya butiran pasir putih.
Kulihat jam dinding sudah menunjuk angka 8, hari juga sudah mulai panas. Aku gelisah, karena teman-temanku sebentar lagi pasti menghampiriku.Sepertinya bapak dari tadi memperhatikan kegelisahanku.
Kulihat jam dinding sudah menunjuk angka 8, hari juga sudah mulai panas. Aku gelisah, karena teman-temanku sebentar lagi pasti menghampiriku.Sepertinya bapak dari tadi memperhatikan kegelisahanku.
“Kenapa kau dari tadi mondar-mandir?
Lirak-lirik jam?”
“Begina Pak, hari ini aku diajak
teman-teman berwisata ke pantai.”
“Dengan anak-anak berandalan itu?”
“Mereka tidak berandalan Pak.”
“Mereka teman-teman Sari, sebenarnya
mereka baik Pak.”
“Sudahlah tinggal di rumah, kau tak
tahu Bapakmu sedang sakit, kau malah pergi.”
Sedih rasanya, bagaimana jika
teman-teman nanti datang kesini, aku jawab apa? Apa aku pergi saja dan tak
perlu bilang Bapak. Kusiapkan semua keperluan Bapak untuk sehari ini, lalu aku
pergi diam-diam lewat pintu belakang. Kusiapkan makanan di meja makan, sehingga
apabila bapak lapar tinggal mengambil saja. Kusiapkan juga air hangat di
termos, apabila beliau ingin mandi tak perlu merebus air dulu. Dan kusiapkan
beberapa obat serta perban di meja. Diam-diam aku pergi sebelum teman-teman
datang ke rumahku.
Kutunggu mereka di ujung jalan.
Mengapa mereka belum keihatan ya? Tak lama kemudian kudengar suara
teman-temanku, mereka datang berlima.
“Sari......!”
“Lukman? Kamu ikut juga?”
“Lukman? Kamu ikut juga?”
“Pasti, karena aku mendengar kamu
ikut, maka akupun semangat ikut.”
“Bisa aja kamu.”
Kami berenam pun berjalan menuju
jalan raya, menunggu angkutan desa yang lewat, cukup lama kami menunggu maklum
di desa sehingga angkutan juga jarang lewat sehingga kami harus sabar menunggu.
Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengobrol sambil bercanda.
Angkutan yang kami tunggu pun lewat. Kurang lebih dua jam kami di angkot karena
jalannya lambat, tak jarang pula di setiap persimapangan ngetem sambil menunggu
penumpang. Dari jauh sudah terlihat hamparan air laut yang hijau, tampak rata
dan sepertinya tak ada batas antara langit dengan laut. Indahnya, aku sudah tak
sabar lagi untuk segera tiba di pantai. Terakhir aku pergi ke pantai ketika aku
masih sekolah SMA kelas X, berarti sudah empat tahun lalu.
“Pantai.....pantai.....”
“Serbu...”
“Serbu...”
Kamipun berlari menuju pantai.
Semilir angin semakin menambah indahnya pantai. Ombak yang berkejar-kejaran
tiada henti seolah menggambarkan kehidupan ini yang terus berjalan dan berlari.
Betapa indahnya ciptaan-Mu. Sambil bermain air serta pasir yang putih sesekali
kami berteriak dan berlari-larian saat ombak datang, dan menyapu rata istana
buatanku dari pasir putih. Ketika aku membangun ulang istana pasir itu,
tiba-tiba Lukman datang menghampiriku.
“Bagus sekali istananya.Gambaran
masa depan ya?”
“Eh...Lukman, mengagetkan saja.”
Kami berdua akhirnya duduk menatap laut
hijau sambil berbincang. Setelah sekian lama kami ngobrol kesana-kemari, aku
mersakan kenyamanan bercerita dengannya. Namun, mengapa hati ini mulai gelisah,
perasaanku mulai campur aduk, entah apa yang aku rasakan? Apakah aku mulai
jatuh cinta kepadanya? Nggak mungkin, ini hanya perasaannku saja karena aku
jarang bercerita dengan orang lain, selain orang tuaku. Apalagi seorang cowok.
Aku juga harus sadar dia anak kepala desa yang sekarang sedang menjalankan
studi di kota, sementara aku hanya tamatan SMA, pasti Lukman juga sudah punya
pacar di kampus, teman-temannya pasti cantik-cantik. Lukman juga orang yang
pandai dan taat beragama, banyak gadis-gadis lain yang terpesona kepadanya.
Sorot matanya begitu tajam saat
memadang mataku, jantungku semakin berdetak saat dia berada di dekatku. Apakah
dia menatap ke semua orang dengan tatapan mata yang tajam? Atau hanya kepadaku
saja? Ah... aku teralu besar kepala. Jika dia menatapku. Sampai kami meyaksikan
matahari yang singgah ke peraduannya. Kami semua pulang, untung masih ada
angkutan terkahir walaupun sampai di rumah kami sudah malam.
“Dari mana saja kau Sari?” Tanya
Ibu.
“Tadi Sari bermain ke pantai dengan
teman-teman.”
“Mengapa kau sampai malam? Dan kau
tak minta izin Bapakmu tadi. Lain kali kau harus izin kalau mau pergi. Sekarang
kau mandi dan makan, sebelum kau diceramahi bapakmu.”
⃰
⃰ ⃰
Hari sudah malam, aku terasa lelah
seharian bermain di pantai. Sambil berbaring, terbayang wajah Lukman waktu
bersama-sama tadi, senyumnya yang manis, matanya yang tajam membuatkau
terpesona padanya. Kutertelap sambil membayangkan wajah Lukman. Tak terasa pagi
yang indah telah menyambutku. Rutinitas pagi kulakukan seperti biasa. Bapak sudah
sembuh dan beliau sudah pergi ke ladang sejak pagi buta.
Sore ini aku latihan menari di rumah kepala
desa, aku baru sadar di sana pasti ada Lukman, mudah-mudahan dia belum ke kota.
Biasanya hari minggu sore dia ke kota karena hari Senin ada kuliah dan kembali
lagi biasanya hari jumat sore. Aku dan beberapa teman sudah datang ke rumah kepala
desa, disana kami berlatih sendiri sambil menunggu sang pelatih datang.
Sesekali aku melongok ke paintu, melihat apakah Lukman masih ada atau sudah
pergi. Namun, tak kulihat batang hidungnya sekalipun. Sepertinya Lukman memang
sudah berangkat ke kota. Mengapa hati ini terasa kecewa saat aku tak bisa
melihatnya.
Kekecewaanku sedikit terobati,
ketika sang pelatih tari memperkenalkan tarian baru kepada kami. Sebelumnya aku
pernah melihat tarian ini saat saudara sepupuku menikah. Tarian itu memang
sangat indah dan menghibur.
Setelah pelatih selesai membawakan
satu tarian sebagai contoh. Kami semua mulai baris sesuai posisi dan mulai
berlatih menari. Walaupun agak susah, tapi sang pelatih tetap tekun mengajari
kami satu persatu. Selain untuk melestarikan budaya di daerah kami, tarian ini
juga dapat digunakan sewaktu-waktu apabila ada pernikahan atau saat menyambut
para tamu. Seperti pejabat-pejabat.
“Gimana latihan tarinya?” Tanya
Bapak
“Aku dilatih tarian baru, Pak. Tapi
cukup sulit.”
“Asal kau mau berlatih pasti bisa
Sari, dari pada kau keluyuran nggak jelas lebih baik kau ikut berlatih tari seperti
itu kan bermanfaat.”
“Iya Pak. Aku mandi dulu Pak.”
Setiap minggu sore kami berlatih
tari. Sudah beberapa tarian yang dapat kami tampilkan. Tarian yang baru pun sudah
mahir kami peragakan dan pernah kami pertunjukkan saat ada pernikahan di
kampung kami. Sanggar kamipun mulai dikenal di kampung-kampung lain, sehinggga
kami sering diundang untuk menari pada acara pernikahan atau penyambutan para
pejabat.
Kegiatanku semakin bertambah, selain
mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sekarang aku sering diundang untuk mengisi
acara dengan teman lain yang sesanggar. Suatu hari kami diundang di kampus
tempat Lukman kuliah. Ohh....betapa senangnya aku mendengar berita itu. Kami
diminta mengisi acara wisuda. Aku berharap di sana bertemu dengan Lukman.
Ketika acara dimulai, muncullah seorang pembawa acara dari pintu samping.
Betapa terkejutnya aku ketika kulihat wajah pembawa acara itu adalah Lukman.
Kurasakan jantungku semakin berdetak
lebih kencang dari sebelumnya. Apakah dia melihatku? Ya Tuhan...Dia tampak
berwibawa sekali dengan mengenakan jas, maklumlah karena ini acara resmi.
Setelah mendengar sambutan dari rektor, kami pun dipanggil oleh pembawa acara
untuk tampil. Perasaan ini semakin tak menentu, selain baru pertama kali tampil
dalam acara resmi seperti ini aku pun semakin salah tingkah ketika Lukman
melihatku menari. Aku hanya bisa berdoa agar tarian yang kami bawakan berjalan
lancar. Aku bersyukur doaku terkabul. Suara riuh dan tepuk tangan dari penonton
merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Setelah acara selesai Lukman mendekati dan menyalamiku.
“Selamat ya, tariannya bagus. Kamu
juga cantik sekali hari ini.”
“Terima kasih, itu juga berkat ayah
kamu yang berinisiatif mendirikan sanggar di kampung kita.”
“Kamu pulang bareng siapa?”
“Aku pulang dengan rombongan.”
“Sebenarnya aku ingin mengajak kamu
pulang bareng. Apa kamu bawa ganti?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu biar aku bilang ke
rombongan kalau kamu bareng aku.”
Segera aku berganti pakaian tari
dengan kaos santai. Aku diboncengkan Lukman dengan menggunakan motor vespa.
Sepanjang jalan aku hanya diam. Aku tidak tau harus ngomong apa? Yang ada
hanyalah perasaanku yang campur aduk tak karuan. Ini kan bukan jalan menuju
kampung kami, akan membawaku kemanakah Lukman? Aku hendak bertanya,
tapi...akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.
“Kita mau kemana?”
“Nanti kau lihat sendiri saja.”
Aku pun tak bertanya lagi, asyik
juga ya melakukan perjalanan dengan motor. Tak lama kemudian kami pun sampai di
pantai yang dulu kami kunjungi bersama. Setelah dia sandarkan motornya, kami
duduk di bawah pohon beralaskan tikar kecil yang selalu dia bawa di motor.
“Sudah lama aku ingin mengajakmu
kesini. Tapi baru kali ini aku diberi kesempatan untuk berdua denganmu. Kamu
tau apa yang aku rasakan selama ini? Sudah lama aku memendam perasaan ini
untukmu, sejak kita masih sama-sama duduk di bangku SMA. Tapi baru aku ungkapan
sekarang, entah kamu memiliki perasaan yang sama atau tidak. Aku hanya
mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini. Sari maukah kau jadi kekasihku?”
“Sebenarnya, sudah lama aku juga
memendam perasaan yang sama. Namun, apa daya aku tak banyak berharap. Karena
aku takut sakit hati, takut kalau kamu juga tak mau mencintaiku.”
“Jadi kamu menerimaku jadi pacarmu?”
“Jadi kamu menerimaku jadi pacarmu?”
Aku hanya mengangguk, Lukman
memelukku erat. Pasir putih, angin, dan lautlah yang menjadi saksi cinta kita
saat itu. Kami pulang bersama, Lukman mengantarkanku sampai rumah. Betapa
indahnya hidup ini. Sungguh aku sangat bahagia. Segala sesuatu yang aku impikan
kini telah menjadi kenyataan. Semua terasa indah, sungguh indah.
Kebahagiaan itu tiba-tiba sirna
ketika orang tuaku mengetahui bahwa aku berpacaran dengan Lukman. Orang tuaku
melarang kami berpacaran dengan alasan adat yang harus dijunjung tinggi. Aku
kecewa, sangat kecewa ketika mendengar itu. Setiap daerah pasti terdapat adat
istiadat yang berbeda-beda, begitu pula di tempatku.
“Kenapa Bapak melarangku berhubungan
dengan Lukman?”
“Karena kamu tak sederajat
dengannya. Dia anak orang terpandang dan berpendidikan tinggi, sementara kamu
hanya anak seorang petani dan hanya tamatan SMA.”
“Tapi, Pak. Cinta tidak mengenal
derajat dan tingkat pendidikan?”
“Tapi bapak tetap tidak merestui,
mau ditaruh di mana muka Bapak? Bagaimana pendapat orang, pasti semua orang
akan meremehkan kita.”
“Aku mohon Pak, aku sangat mencintai
Lukman.”
“Dengan apa kita akan menyiapkan
pernikahan? Menjual ladang? Lalu orang tuamu harus kerja di mana? Nganggur?
Mengharap belas kasihan dari besan?”
Aku menyadari bahwa keluargaku
memang hanya pas-pasan secara materi. Pendapatan sehari-hari memang hanya cukup
untuk kebutuhan sehari-hari. Aku juga masih ingat ketika aku masih sekolah.
Bapak sering meminjam uang kepada tetangga untuk membayar SPP. Kemudian beliau
baru membayar ketika panen. Sering itu dilakukan tak hanya untuk membayar SPP
untuk kebutuhan yang lain juga. Aku sedih, tapi aku juga tak mau mengorbankan
perasaanku.
Aku menemui Lukman di sanggar karena
ini hari sabtu, aku tau Lukman pasti di rumah. Kudapati dia sedang membaca buku
dan kumendekatinya. Kuceritakan semua yang kualami selama semiggu ini. Lukman
hanya terdiam mendengar ceritaku, aku menyerahkan semuanya ke Lukman, apapun
resikonya. Tapi Lukman juga ingin mempertahankan hubungan kita.
“Setelah aku lulus sarjana, aku akan
bekerja. Dan hasil pendapatanku kita tabung, setelah terkumpul kita gunakan
untuk menyiapkan pernikahan. Bagaimana pendapatmu?”
“Mungkin itu semua memang mudah kita rencanakan, tapi kita nggak tahu, bagaimana nantinya? Apakah orang tuamu setuju?”
“Mungkin itu semua memang mudah kita rencanakan, tapi kita nggak tahu, bagaimana nantinya? Apakah orang tuamu setuju?”
“Aku nggak tau, kamu juga tau kalau orang
tuaku juga orang yang keras terhadap pendirian.”
“Benarkan? Mungkin semua yang kita rencanakan kini hanya kenangan saja.”
“Benarkan? Mungkin semua yang kita rencanakan kini hanya kenangan saja.”
“Aku pulang saja Lukman.”
“Kenapa?”
“Aku ingin menenangkan pikiran.”
“Aku ingin menenangkan pikiran.”
Terlalu sakit menerima kenyataan
ini. Sepertinya aku tak sanggup lagi setiap hari mendengar ceramahan bapak dan
ibu. Aku ingin pergi. Sempat terpikir di benakku, seandainya aku pergi merantau
ke luar kota dan aku melupakan Lukman saja. Daripada aku menahan rindu terus
menerus seperti ini namun aku selalu dilarang oleh orang tua. Namun, pikiran
itu tiba-tiba kuurungkan ketika aku mengingat jasa kedua orang tuaku yang telah
membesarkanku hingga aku menjadi seperti ini.
⃰
⃰ ⃰
Setahun kemudian, aku menjadi orang
yang lebih berguna. Tak lagi memikirkan masalah pribadiku saja. Aku sudah bisa
menari dengan baik dan dipercaya untuk melatih tari di daerahku. Beberapa lomba
sudah kuikuti, dan tak sedikit juga yang aku menangkan. Melalui budaya daerah
inilah kebudayaan Indonesia menjadi semakin kaya. Aku tersenyum bangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar