Sabtu, 06 Desember 2014

analisis novel Atheis



Dalam novel ‘Atheis’ karya Achdiat K. Mihardja menceritakan tentang perjalanan hidup seseorang bernama Hasan yang lahir dari sebuah keluarga yang sangat taat kepada agamanya yaitu Islam.Hasan adalah anak tunggal dari pensiunan manteri guru yang tinggal di lereng gunung Telaga Bodas ditengah-tengah pegunungan priangan yang indah bernama kampung panyeredan di wilayah Bandung yang pada waktu itu masih dalam keadaan dijajah pemerintahan Jepang.
Sejak kecil Hasan dididik dengan cara Islam,Ayahnya Raden Wiradikarta menginginkan Hasan menjadi anak yang baik,sopan,berilmu dan berakhlak sholeh.Oleh karena itu,walaupun Hasan masih kecil tapi,dia sudah menunjukkan pribadi Islam yang taat.Hasan selalu patuh kepada semua peraturan kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Hasan semakin bangga melihat Hasan tumbuh dewasa dengan kadar keimanan yang cukup tinggi, kebahagiaan dan kebanggaannya bertambah ketika Hasan berniat untuk pergi memperdalam ilmu tarekat pada kiayi Mahmud seperti yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dulu. Keimanannya semakin meningkat setelah Hasan menimba ilmu disana dan mengamalkannya dalam setiap langkah hidupnya. Setelah Hasan merasa cukup dengan ajaran-ajaran dari kiayi Mahmud dan orang tuanya, maka setelah ia sekolah, Hasan pun bekerja disebuah kantor milik Jepang. Kini Hasan harus terpisah dengan kedua orang tuanya, karena pekerjaannya berada didaerah yang jauh dari desa tempat kelahirannya dulu. Walaupun Hasan jauh dari kedua orang tuanya dan bekerja pada orang-orang Jepang tetapi Hasan masih memegang teguh agamanya dan masih menjadi pribadi dengan keimanan yang kuat.
Suatu ketika,Hasan sedang bekerja pada loketnya,Hasan bertemu sahabat lamanya bernama Rusli, dia teman kecil Hasan yang telah meraih kesuksesan dan memiliki pengalaman hidup yang luas.Dalam waktu yang bersamaan,Rusli mengenalkan seorang perempuan bernama Kartini yang bersamanya pada waktu itu kepada Hasan.Ketiganya saling bercakap-cakap sampai pada titik kesimpulan bahwa Hasan disuruh berkunjung kerumah Rusli yang tidak jauh dari perumahan yang ditempati Hasan.Hasan pun sering datang kerumah Rusli,Kartini pun selalu ada disana.Hasan sangat senang bertemu dengan sahabat lamanya itu,ditambah lagi dengan adanya Kartini yang menurut Hasan adalah sesosok perempuan yang sangat mirip dengan Rukmini,kekasihnya dulu pada waktu dikampung.Baginya Kartini adalah jelmaan yang dikirim Tuhan untuk menggantikan Rukmini yang telah pergi dari kehidupannya.
Meskipun Hasan bahagia dengan sahabat lamanya itu,tapi semua kebahagiaan itu belum cukup karena ternyata kedua temannya itu mempunyai keyakinan yang berbeda dengan dirinya,mereka beranggapan bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak ada.Hal itulah yang membuat Hasan berniat untuk mengIslamkan kedua temannya itu,tapi niat baiknya itu semakin terkikis oleh kebaikan Rusli dan Kartini,Hasan sedikit melalaikan niat awalnya itu karena sering berdiskusi tentang berbagai hal dengan Rusli ataupun Kartini.Walaupun niat Hasan mulai luntur tapi dia masih taat pada ajaran Agamanya.Selain berkunjung kerumah Rusli,Hasan pun sering diajak pergi ke Restoran oleh Rusli dan Kartini.Mereka selalu pergi bertiga hingga perasaan lain pun datang kepada Hasan untuk Kartini,dia pun menerima perasaan Hasan.Sejak saat itu mereka semakin dekat dan akrab,tapi sering pula Hasan berfikir,mengeluh,hatinya bimbang,terombang-ambing antara dua pilihan.Tetap berada di jalan yang telah diajarkan oleh orang tuanya sejak kecil yaitu jalan Agama atau memasuki dunia yang baru saja ia kenal dari sahabatnya Rusli dan Kartini namun telah menariknya dengan kuat menjadi seorang Atheis.
Kehadiran Kartini mengubah seluruh hidup Hasan,berusaha menyesuaikan diri dengan pergaulan Kartini dan paham yang diyakininya,Hasan mengalami berbagai konflik yang menyebabkan pertentangan hebat didalam batinnya.Masalah meruncing ketika muncul Anwar,seorang seniman dan sekaligus teman Rusli,Anwar dikenalkan Rusli kepada Hasan dan Kartini ketika mereka berada disebuah Restoran.Sejak saat itu Hasan telah mengetahui bahwa Anwar menaruh hati kepada Kartini.Mengetahui keadaan seperti itu,akhirnya Hasan menikahi Kartini yang sudah menjadi cita-citanya dari sejak ia mengenalnya.Awalnya Hasan ingin menuntun istrinya itu menjadi seorang muslimah dengan satu keyakinan dalam rumah tangga yang baru saja ia masuki.Tapi semua harapan itu hilang ketika Kartini sering meninggalkan rumah setelah beberapa bulan pernikahan,hal itu terjadi karena satu permasalahan antara Kartini dengan orang tua Hasan yang memang dari semula tidak pernah menyetujui pernikahan mereka karena Kartini seorang Atheis.
Rumah tangga yang semula diselimuti kabahagiaan harus berakhir dengan perceraian,Hasan pun menceraikan Kartini karena dia beranggapan bahwa Kartini telah berselingkuh dengan Anwar,dia selalu pergi dengan Anwar ketika meninggalkan rumah.Begitulah pemikiran Hasan yang pada saat itu keadaannya yang sedang sakit TBC,dia sangat sedih dan menyesal karena dia sudah melukai hati kedua orang tuannya dengan menjadi Atheis dan menikahi Kartini yang akhirnya Ayah Hasan harus meninggal dunia dengan membawa penyesalan yang mendalam karena perbuatan anaknya, Hasan.Hasan sangat menyesal dengan apa yang telah dipilih dalam hidupnya, dengan penyakit TBC yang dideritanya ditambah dengan penyesalan yang sangat dalam maka Hasan pun semakin lemah dan harapannya telah kosong. Hidupnya berakhir apda peluru yang ditujukkan kepadanya ketika dia berjalan sempoyongan di jalan oleh tentara Jepang yang pada waktu itu sedang mambabi buta di jalanan sekitar perumahannya. Hasan pun tersungkur bermandikan darah dengan melepas kata “ALLAHU AKBAR “ tak bergerak lagi.


ANALISIS UNSUR INTRINSIK NOVEL ATHEIS
KARYA ACHDIAT KARTA MIHARJA

Fakta Cerita:
1)      Tokoh dan penokohan
a.       Hasan
·    laki -laki biasa yang sederhana dan tubuhnya kurus
Bukti kutipan:

Seperti namanya pula, rupa, dan tampang Hasan pun bisa sederhana. Hanya badannya kurus, dan karena kurus itulah maka nampaknya seperti orang yang tinggi, mata, dan pipinya cekung portrayal of throught steam. ( Atheis, 1949: 7 )
·         seorang yang kurng teguh pendiriannya
Bukti kutipan:
Dia seorang pencari. Dan sebagai seorang pencari, maka ia selalu terombang – ambing dalam kebimbangan dan kesangsian. ( Atheis, 1949: 7 )
·         seorang yang fanatik dengan agamanya
Bukti kutipan:
… berpuasa tujuh hari tujuh malam. Hasan kemudian menyelesaikan ritualnya mandi di kali Cikapundang selama 40 kali, satu malam dan sembahyang Isya sampai shubuh.  (Atheis, 1949: 24-25 )
b.      Kartini
·         korban Siti Nurbaya dipaksa kawin oleh ibunya dengan seorang rentenir Arab tua yang kaya.
Bukti kutipan:
…… Kartini itu telah dipaksa kawin oleh ibunya dengan seorang rentenir Arab yang kaya raya. ( Atheis, 1949: 34 )
·         Kartini seorang yang berideologi tegas dan radikal.
Bukti kutipan:
…… pengalamannya yang pahit itulah telah membikin dia menjadi srikandi yang berideologi tegasdan radikal. ( Atheis, 1949: 35 )
c.       Rusli
·         Rusli adalah teman kecil dari Hasan. Dari kecil Rusli adalah anak yang nakal, jarang sembahyang.
Bukti kutipan:
Rusli itu adalah seorang kawanku ketika kecil. ( Atheis, 1949: 35 )
……… yaitu kalau rusli nakal, dan aku sebahyang. ( Atheis, 1949: 35 )
·         Rusli juga seseorang yang dapat menghargai orang lain dan sopan.
Bukti kutipan:
Tentu saja saudara Hasan tidak akan membiarkan pendapat saya itu. Itu saya dapat mengerti dan hargai, dan memang tak asah saudara Hasan menerima segala apa yang saya katakan itu. ( Atheis, 1949: 78 )
·         Rusli seorang yang mudah mempengaruhi orang lain.
Bukti kutipan:
……. Bertambah banyaklah aku tertarik oleh uraian rusli yang suka sekali membawa aku berpiker tentang pelbagai soal hidup, baik soal – soal kemasyarakatan, politik, ekonomi, dan lain – lain yang selama itu tidak pernah menjadi soal bagiku. ( Atheis, 1949: 112 )
·         Rusli juga seorang Atheis ( tidak percaya akan adanya Tuhan dan agama ).
d.      Anwar
·         Anwar adalah rekan dari Rusli dan Kartini. Anwar adalah seniman anarkhis dan ramah. Seperti dikutip, bagaimana fisik dari Anwar
Bukti kutipan:
Perkenalkan dulu. Saudara Anwar, seniman anarkis dari Jakarta ( Atheis, 1949: 105 )
·         Laki-laki yang cakap rupanya dan sipit matanya
Bukti kutipan:
Ia pemuda yang cakap rupanya. Kulitnya kuning seperti kulit orang Cina dan matanya pun agak sipit. Mungkin ia keturunan Cina/ Jepang. Ia berkumis kecil seperti sepot sapu lidi masuk ter dan janggutnya jarang – jarang seperti akar yang liar. Rambutnya belum bercukur…….. ( Atheis, 1949: 105 )
·         Orang yang selalu beranggapan bahwa dirinya adalah Tuhan
Bukti kutipan:
Kalau menurut saya, “sambung Anwar” Tuhan itu adalah aku sendiri (telunjuknya (sendiri menusuk dadanya ) ( Atheis, 1949: 109 )
·         Anwar adalah individualis anarkhis dan suka memaksakan kehendaknya.
Bukti kutipan:
Ia suka sekali mendesak – desakkan kehendak atau pendapatnya sendiri. Dalam hal ia selalu agresif. Selalu polemis dan mengemukakan dirinya sendiri, seolah – olah dialah saja yang paling pintar, paling benar dan tak diinsyafinya agaknya, bahwa kebenaran itu terlalu besar untuk dimonopoli oleh hanya 1 orang saja, seorang Anwar. ( Atheis, 1949: 137)
e.       Orang tua  Hasan
·         Sangat cinta pada anaknya
Bukti kutipan:
Orang tuaku sangat cinta keadaku dan Fatimah ( Atheis, 1949: 15)
·         Orang yang saleh dan alim
Bukti kutipan:
Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh dan alim. ( Atheis, 1949: 11)
f.       Siti
·         Siti adalah seorang babu yang soleha.Dia juga seorang babu yang memiliki iman yang cukup kuat.Ia sangat pandai dalam mendongeng.
Bukti kutipan:
Siti suka sekali mendongeng , dan sebagai biasanya pandai pula ia mendongeng. Dan yang biasa di dongengkannya itu dongeng yang hidup subur di antara para santri itu. ( Atheis, 1949: 18)
g.      Nata
·         Seorang pembantu laki-laki, dia adalah suaminya siti. Dan nata adalah seorang santri yang cukup taat.
Bukti kutipan:
……. Maka babu dan bujang pun terdiri dari sejodoh orang-orang alim juga.     
( Atheis, 1949: 18)
h.      Haji Dahlan
·         Haji Dahlan adalah seorang haji yang berasal dari banten.Nama aslinya sebelum jadi haji adalah Wiranta.Haji Dahlan merupakan seorang haji yang memiliki ilmu atau pandangan yang cukup luas tentang ajaran agama Islam.
Bukti kutipan:
.............seorang haji dari Banten. Haji Dahlan begitu nama orang ini setelah memakai sorban. Dulunya ia bernama Wiranta. ( Atheis, 1949: 11)
i.        Bung Parta
·         Bung Parta adalah seorang tokoh pergerakan. Ia sangat pandai menyampaikan atau mengemukakan gagasan tentang dunia pergerakan. Dalam menyampaikan pandangan-pandangannya itu, ia sering menggunakan lelucon untuk lebih meresap apa yang disampaikannya itu, sehingga lebih mudah diterima oleh pendengarnya.
Bukti kutipan:
Ia turut aktif bergerak di kalangan serikat buruh perkapalan yang corak internasional, ( Atheis, 1949: 120)
Kalauu Bung Parta melucu, Anwarlah yang paling keras tertawa. ( Atheis, 1949: 121)
2)      Latar atau setting
v  Latar tempat
·         Tempat penceritaan novel adalah di Jawa Barat dan khususnya di Kota Bandung.
      Bukti kutipan:
Di lereng gunung Telaga Bodas di tengah – tengah pegunungan Priangan yang indah, terletak sebuah kampung, bersembunyi di balik hijau pohon – pohon jeruk Garut, ( Atheis, 1949: 10)
Aku tunduk saja. Mengerti aku, bahwa orang tuaku itu takut kalau – kalau aku akan menjadi buaya atau akan tersesat ke jalan pelacuran. Maklumlah kota Bandung. ( Atheis, 1949: 21)
Stasiun Bandung sudah samar-samar diselimuti oleh senja, ketika kereta api dari Cibatu masuk. Matahari sedang mengundurkan diri, pelan – pelan dan hati – hati seperti pencuri yang hendak meninggalkan kamar untuk menghilang ke dalam gelap.
Kota Bandung tidak seperti tiga tahun yang lalu. Pada senja hari yang indah seperti itu, di zaman yang lalu kota itu seolah – seolah mulai berdandan. Lampu – lampu listrik di jalan – jalan, di toko – toko dan di rumah – rumah mulai dipasang, seakan – akan manusia bersedia – sedia untuk mulai berjuang membantu Ormurd, dewa terang, dalam perjuangannya yang abadi melawan Ahtiman, dewa gelap.
( Atheis, 1949: 225)
Penginapan dekat stasiun
Bukti kutipan: ….. supaya malam itu ia nginap saja disebuah penginapan dekat stasiun. ( Atheis, 1949: 218)
·               Di dalam rumah
Rumah Rusli Kebon Mangga 11
Bukti kutipan: sore itu,kawan-kawan berkumpuldi rumahnya Rusli ( Atheis, 1949: 120)
Di rumah orang tua Hasan
Bukti kutipan: ibu di dapur segera diberi tahu tentang niatku itu. ( Atheis, 1949: 21)
tiga malam haji dahlan menginap di rumah orang tuaku. ( Atheis, 1949: 11)
v  Latar waktu
·         Latar waktu cerita ini terjadi dari tahun 1940 – an ketika Belanda dan Jepang mulai memperebutkan Indonesia sebagai tanah jajahannya. Sampai massa menjelang proklamasi kemerdekaan ketika perang dunia II mulai. Hal ini dibuktikan dari tanggal pernikahan Hasan dan Kartini yaitu tanggal 12 Februari 1941. dan dijelaskan dalam novel pada halaman 177 bahwa pemerintah Hindia – Belanda tekuk lutut kepada kekuasaan balatentara Dai Nippon dengan tidak memakai syarat apa – apa. Selain itu, akhir hayat Hasan, dia dibunuh oleh Kusyu Heiho ( yaitu tentara Jepang ) karena dianggap mata – mata. 
·         Sore hari sore
Bukti kutipan: agak panas sore ini, kata Rusli. ( Atheis, 1949: 38)

·         Waktu magrib
Bukti kutipan: sampai di rumah, magrib menyambut aku dengan tabuh.
 ( Atheis, 1949: 42)
·         Siang hari
Bukti kutipan: hari Sabtu kantor-kantor pemerintah hanya bekerja sampai jam satu siang. ( Atheis, 1949: 103)
·         Hari Minggu
Bukti kutipan: Hari Minggu. Jendela-jendela dan tingkap-tingkap kaca di serambi muka ku buka luas-luas. ( Atheis, 1949: 89)
v  Latar suasana
·         Religius
Bukti kutipan: Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh alim. Sudah sedari kecil jalan hidupnya ditempuhya dengan tasbeh dan mukena. Iman Islamnya sangat tebal ( Atheis, 1949: 11)
·         Mengharukan
Bukti kutipan: …………… badan yang lemah itu berguling- guling sebentar di atas aspal,bermandi darah. Kemudian dengan bibir melepas kata “ALLAHU AKBAR” Tak bergerak lagi….. ( Atheis, 1949: 250)
3)      Alur
Alur novel ini disajikan secara sorot balik ( flash back ), sebuah gebrakan baru era tahun ’45.
Alur dalam cerita novel atheis dapat digambarkan sebagai berikut:

[ C { B ( A ) B } C ] 

Bagian A merupakan bagian dari novel yang berisi riwayat pelaku utama ( tokoh utama ), yaitu Hasan. Bagian ini bermula dari bab III sampai bab XII, yaitu dikisahkan dalam bentuk “aku”, yaitu Hasan.

Bagian B, baik sebelum maupun sesudah A merupakan kisah pertemuan dan perbincangan pengarang dengan Hasan. Bagian ini diceritakan juga dalam bentuk “aku”, tetapi “aku” adalah pengarang bukan Hasan. Bagian – bagian ini hanya sedikit, B yang pertama meliputi bab II, sedangkan B yang kedua meliputi bab XII. Bab XII ini merupakan pertemuan pengarang dengan Kartini, ketika Hasan menghilang. Sedangkan bagian C kedua – duanya merupakan cerita pengarang tentang Hasan yang diperolehnya dari teman – teman dekat Hasan. Bagian C pertama terdiri atas bab I, yang hakikatnya merupakan kelanjutan bagian C kedua yang terdiri atas bab XIV dan XV. Maksudnya adalah bagian C terakhir ( bab XIV dan XV ) merupakan bagian ketika Hasan meninggalkan rumah dan mencari Anwar dengan penyakitnya yang tak kunjung sembuh, kemudian Hasan ditembak mati oleh tentara Jepang dan di bagian C pertama adalah Kartini, Rusli, dan pengarang mendapatkan kabar kematian Hasan. Ceritanya dibalik menjadi alur sorot balik.
Sarana Cerita :
1.      Judul : Aitheis
Menurut saya judul atheis ini sengaja dimbil karena di dalam novel ini menceritakan tokoh-tokoh yang tidak memiliki agama (atheis). Karena pada bagian inilah yang sangat menarik dari novel ini, di bagian tersebut banyak terjadi konflik atau salah faham antara Hasan yang memegang teguh agama yakni islam dengan Rusli orang yang memiliki faham yang berbeda dengan Hasan dan dia seorang atheis pula, di tambah lagi kedatangan Anwar yang menambah seru keadaan yang menganggap bahwa dirinya adalah tuhan. Dengan berjalannya waktu setelah lama Hasan bergaul dengan mereka semua, keyakinan tentang agama yang telah di peluknya sejak kecil semakin lama semakin hilang dan dia juga ikut seperti rekan-rekannya menjadi seorang yang atheis.
2.      Sudut Pandang: sudut pandang adalah cara seorang penulis melukiskan cerita dalam karyanya, bagaimana ia menempatkan dirinya pada saat menceritakan kejadian tersebut.
Sudut pandng yang digunakan dalam novel “Atheis” adalah metode orang pertama sertaan. Hal ini kita temukan dalam novel “Atheis”, yaitu penggambaran tokoh menggunakan kata aku.Cerita ini sungguh membingungkan bila kita tidak membacanya dengan sungguh-sungguh.Cerita ini megisahkan tentang Hasan.Kisahnya ini dikarang oleh Hasan sendiri dan disampaikan kepada penulis. Jadi dengan melihat kenyataan tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pengarang menyampaikan cerita dari orang lain.
3.      Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan oleh Achdiat Karta Mihardja dalam menulis novel ini adalah banyaknya digunakan bahasa-bahasa asing seperrti bahasa Jepang,selain itu Novel ini banyak menggunakan gaya bahasa perbandingan. Hal ini terlihat dari beberapa kalimat yang digunakan yaitu membandingkan sesuatu dengan orang. Banyak lagi kalimat yang menggunakan majas perbandingan.Sehingga novel ini sangat menarik dan indah untuk dibaca.
a)      Simile (perumpamaan)
Simile atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan, tetapi sengaja dianggap sama. Pada novel “Atheis” karya Achdiat K. Mihardja, gaya bahasa ini terlihat pada dialog-dialog antar tokoh.
Bukti kutipan: orang yang banyak dosanya di dunia ini akan merangkak-rangkak seperti siput di ata seutas benang yang tajam. ( Atheis, 1949: 18)
b)      Hiperbola
Hiperbola adalah majas yang mengandung suatu pernyataan yang berlebih-lebihan.Maksudnya adalah untuk memberikan penekanan pada suatu pernyataan atau untuk memperhebat, mengingatkan kesan, menarik perhatian, dan sebagainya. Bukti kutipan : semuanya kelihatannya sangat lesu juga. Serupa onggokan-onggokan daging juga yang tak berdaya apa-apa pula.
( Atheis, 1949: 1)

Tema Ceita : Makna karya
         Tema adalah pokok pembicaraan dalam sebuah cerita, cerita itu sendiri bukan hanya sekedar rentetan kejadian yang disusun dalam sebuah bagan, tetapi susunan bagan itu sendiri harus mempunyai maksud tertentu. Tema yang diangkat dalam novel “ Atheis” ini adalah persoalan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Novel Atheis ( 1949 ) karya Achdiat K. Mihardja adalah karya sastra yang mengetengahkan perkembangan awal abad ke – 20, yakni pergeseran gaya hidup tradisional ke gaya hidup yang modern. Atheis menyoroti kebiasaan umum dalam menanamkan ajaran Islam secara dogmatis. Atheis mengambil tema benturan Islamisme yang ditanamkan secara dogmatis melawan komunisme. Sifat keberagamaan dalam novel ini terasa begitu kental hampir di setiap bagiannya. Bukti kutipan : Sesungguhnya, semua itu meminta cara. Meminta cara oleh karena hidup di dunia ini berarti menyelenggarakan segala perhubungan lahir batin, antara kita sebagai manusia dengan sesama makhluk kita dengan alam beserta pencintanya. Dan penyelenggaraan semua perhubungan itu meminta cara. Cara yang sebaik – baiknya, seadil – adilnya, seindah – indahnya, setepat – tepatnya, tapi pun sepraktis – praktisnya, dan semanfaat – manfaatnya bagi kehidupan segenapnya. ( Atheis, 1949: 3)


           
           














UNSUR EKSTRINSIK NOVEL ATHEIS KARYA
ACHDIAT KARTA MIHARJA

A.    Latar Belakang Keagamaan
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Sebuah karya sastra bisa dikatakan berhubungan erat dengan kepercayaan. Karya sastra sebagai struktur yang kompleks, yang di dalamnya menyoroti berbagai segi kehidupan termasuk masalah keagamaan patut kita gali untuk diambil manfaatnya. Sebelum kita menggalinya, terlebih dahulu kita harus mengetahui kriteria-kriteria religus dalam sebuah karya sastra. Atmosuwito (1987-124) mengemukakan kriteria-kriteria religius sebuah karya sastra:
(1) Penyerahan diri, tunduk dan taat kepada sang pencipta.
(2) Kehidupan yang penuh kemuliaan.
(3) Perasaan batin yang ada hubungannya dengan Tuhan.
(4) Perasaan berdosa.
(5) Perasaan takut.
(6) Mengakui kebesaran Tuhan.
Dalam segi agama novel Atheis menyuguhkan dua macam kelompok masyarakat yang berlainan kepercayaan. Kelompok masyarakat pertama ialah kelompok masyarakat yang mempercayai adanya Tuhan ( Theis ) dan sangat taat beribadah dalam memeluk agama Islam, sedangkan kelompok masyarakat kedua ialah kelompok masyarakat yang tidak mempercayai adanya Tuhan ( Atheis ), melainkan menganggap mesin atau teknologi sebagai Tuhan mereka. Hal tersebut dapat diketahui dalam kutipan dibawah ini:
“ Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh dan alim. Sudah sedari kecil jalan hidup yang ditempuhnya dengan tasbih dan mukena. Iman islamnya sangat tebal. ...” ( Atheis, 1949: 11)

Sangat berbanding terbalik dengan teman-teman dari tokoh utama yang tidak percaya akan adanya tuhan. Seperti dalam kutipan berikut ini:
Tuhan itu tidak ada. Yang ada ialah teknik. Dan itulah Tuhan kita! Sebab tekniklah yang memberi kesempatan hidup kita.” ( Atheis, 1949: 123).       
Berdasarkan alur cerita yang disajikan oleh Achdiat bahwa novel ’’Atheis’’ menonjolkan tiga bentuk manusia, pertama manusia yang theis. Manusia ini adalah tipe manusia yang sangat teguh pendiriannya terhadap ajaran yang percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa. Manusia semacam ini menunjuk pada diri raden Wiradikarta (ayah kandung Hasan). Dia sosok manusia yang percaya dan teguh terhadap ajaran. Baginya ajaran tak bisa dikompromikan. Hl semacam ini juga terdapat pada para kyai seperti guru Hasan. Kedua, manusia yang Atheis yaitu manusia yang benar-benar tidak percaya adanya Tuhan.Yang menjadi contoh manusia seperti ini adalah Rusli yang berpaham marxisme dan Anwar yang berpaham anarkis. Sedangkan ketiga adalah tipe manusia yang tidak duanya, yaitu tidak theis dan juga atheis. Manusia seperti ini ada pada diri Hasan. Ia terombang-ambingkan antara theis dan dan atheis. Ia ragu dan bimbang. Ajaran yang lama menjadi goyah dan ajaran yang baru belum meresap sepenuhnya.
Achdiat membuka pintu baru dalam novel “Atheis” yang membicarakan tentang jiwa manusia karena pengaruh ajaran ( isme ) Di sinilah yang menjadi ciri khas Achdiat dalam novel ini. Sehingga novel “Atheis” menjadi besar dalam sastra indonesia. Achdiat pernah mempelajari filsafat dan mempelajari mistik (tarikat) aliran Kadariyah Naksabandiah dari Kiyai Abdullah Mubarak yang terkenal juga dengan nama Ajengan Gedebag, oleh karena itu dapat pula dikatakan bahwa terciptanya novel atheis berasal dari pandangan-pandangan yang lahir dari Achdiat Kartamihardja. Hal tersebut memberikan pesan bahwa kita harus mempunyai pendirian terhadap kepercayaan (agama). Dan harus mau mendalaminya agar tidak mudah digoyahkan dengan ajaran-ajaran baru yang menganggap bahwa tuhan itu tidak ada.
B.     Latar Belakang Sosial
Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksi terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Pengarang sebagai objek individual mencoba menghasilkan pandangan dunianya kepada objek kolektifnya. Penggabungan objek individual terhadap realitas sosial yang ada di sekitarnya menunjukkan sebuah karya sastra berakar pada kultur masyarakat tertentu. Keberadaan sastra yang demikian, menjadikan sastra dapat diposisikan sebagai dokumen. (Pradopo dalam Jabrohim 2001: 59).
Karya sastra berfungsi untuk menginventarisasikan sejumlah kejadian yang ada di masyarakat. Seluruh kejadian dalam karya sastra merupakan prototipe kejadian yang pernah dan mungkin terjadi pada kehidupan sehari-hari. Sebagai fakta kultural, karya sastra dianggap sebagai representasi kolektif yang secara umum berfungsi sebagai sarana untuk memperjuangkan aspirasi dan kencenderungan komunitas yang bersangkutan. Kedudukan sastra dalam kecenderungan ini sangat penting, terutama untuk mengangkat harkat dan martabat manusia dalam gejala yang selalu berubah. Pengarang menciptakan karya sastra berdasarkan kenyataan yang terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu, karya sastra dapat diartikan sebagai suatu gambaran mengenai kehidupan sehari-hari di masyarakat. Adanya realitas sosial dan lingkungan yang berada di sekitar pengarang menjadi bahan dalam menciptakan karya sastra sehingga karya sastra yang dihasilkan memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan pengarang maupun dengan masyarakat yang ada di sekitar pengarang.
Berkaitan dengan novel Atheis, bahwa di dalam perkembangan dan pertumbuhan masyarakat yang semakin maju maka semakin pudarnya nilai-nilai agama, sehingga rasa keragu-raguan mudah tumbuh karena kurang kuatnya pendirian apabila sudah menyangkut tentang perasaan. Dalam pembahasan novel Atheis ini kita dapat mengambil sebuah pelajaran tentang bagaimana kita bersikap dan kehati-hatian dalam bertindak, apabila sudah menyangkut hal yang pribadi seperti kepercayaan dan perasaan terhadap lawan jenis.
Pada masa penjajahan Jepang faham-faham barat mulai berkembang sejak zaman kesusastraan pujangga baru, perkembangan faham barat semakin luas di kalangan cendikia-cendikia bangsa. Salah satu yang berkembang sangat cepat saat itu adalah ideologi marxis yang dilahirkan sebagai sebuah konsep pemikiran untuk melawan ketidakadilan cara hidup masyarakat kapitalis oleh seorang Jerman bernama Karl Marx dan kemudian dipraktekkan dengan kejam oleh Lenin setelah melalui perombakan faham komunisme dari Lenin.
Bangsa Indonesia pada zaman itu mempunyai pengaruh dalam perkembangan gerakan komunis yang bercampur dengan pengertian ideologi marxis dengan mengawali gebrakan-nya lewat pemberontakan Madiun 1948. Bisa dipahami bahwa pada masa-masa penjajahan Jepang perkembangan dan pengaruh pemikiran dan idiologi berkembang sangat pesat karena dalam rangka pembebasan bangsa Indonesia dari masa penjajahan, sebagaimana pula cerita novel Atheis ini, merupakan gerakan-gerakan awal dari komunitas-komunitas yang masih berupa aksi kecil dan forum tukar pikiran demi membina kemapanan pemahaman ideologi yang dikembangkan.
Pada masa-masa itu juga, paham keagamaan tradisional masyarakatnya mulai berhadapan dengan gaya hidup barat yang sangat terbatas dikenalkan oleh Belanda dan ideologi komunis, yang sebaliknya sangat merakyat disebarkan oleh pemikir-pemikir muda. Namun, sejarah membuktikan bahwa kemudian komunis dihancurkan  untuk selama-lamanya dari bumi indonesia pada ujung peristiwa G30S/PKI tahun 1965.
Novel ini menggambarkan situasi sosial (dalam) pada masa itu (sehingga ia juga berupa rekaman sejarah dalam beberapa hal), dan memperlihatkan suatu kondisi psikologis yang ada pada sebuah individu yang hidup pada masa itu. Diceritakan dalam novel bagaimana tokoh Hasan menderita beban pikiran sebab dia mulai dirasuki pemikiran marxis yang bertentangan dengan keyakinan tradisionalnya selama ini. Kemudian dia juga harus pula mewujudkan benih-benih cintanya pada Kartini yang membuat dia memaksakan diri untuk tetap bergabung dalam komunitas tersebut. Lalu, ternyata mendapatkan Kartini pun tidak membuat bahagia bagi Hasan. Sebagai makhluk yang ternyata tetap tak bisa menghilangkan cara pikir konservatifnya, Hasan berpisah dengan Kartini. Namun, belum berpisah dengan ke marxis-annya.

Situasi seperti ini menggambarkan pula bagaimana salah satu episode kemelut hidup yang mungkin dihadapi oleh seorang anak bangsa pada masa itu. Sejarah menceritakan bagaimana marxis dihabisi di bumi pertiwi dan kehidupan orde baru tidak memberi tempat bagi kekalahan cara pikir tradisional seperti yang terjadi dalam novel ini. Akhir hidup tragis yang dialami oleh tokoh Hasan barangkali dijadikan suatu alasan bagi otoritas ideologi dewasa ini untuk tetap mempublikasi karya ini, sebagai peringatan bukan teladan. Dan ideologi marxis tetap jadi masalah hingga dewasa ini bagi pandangan hidup tradisional masyarakat Indonesia yang malah berusaha menuju sistem hidup kapitalis.
C.    Latar Belakang Kehidupan Pengarang
Achdiat Karta Mihardja lahir di Cibatu, Garut, 6 Maret 1911 dan meninggal di Canberra, Australia, 8 Juli 2010 pada umur 99 tahun. Pendidikannya Ia lalui di AMS (Algemene Middelbare School) bagian A1 (Sastra dan Kebudayaan Timur) di Solo pada 1932 kemudian di Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia (1948-1950). Ia juga mempelajari ajaran mistik (tarekat) aliran Qadariyah Naqsabandiyah dari Kiyai Abdullah Mubarak yang terkenal juga dengan nama Ajengan Gedebag. Selain itu belajar filsafat pada pater Dr. Jacobs S.J., dosen pada Universitas Indonesia, dalam Filsafat Thomisme.
Pada masa sebelum tahun 1945 Achdiat adalah wartawan dan pegawai Balai Pustaka. Setelah tahun itu dia akrab bergaul dengan Chairil Anwar dan kalangan orang-orang Republik. Dalam berpolitik ia lebih cenderung pada Sjahrir. Ketika suasana menghangat dalam masa Orde Lama, ia pindah ke Australia, dan seterusnya bermukim di Canberra. Hanya seorang anaknya yang kini tinggal di Indonesia.
Karya sastra Achdiat umumnya menyoroti tingkah laku manusia dari segi-segi kelemahannya. Plot-plot ceritanya biasanya menarik, dengan penempatan tokoh-tokohnya dalam situasi tidak biasa. Dari situasi demikian ia mengupas kelemahan-kelemahan dasar manusia yang bersifat universal (umum).
Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga Islam tradisional yang taat, Achdiat Karta Mihardja (AKM) berhadapan dengan kebudayaan barat melalui pendidikan belanda. Ia menyerap suasana religius kehidupan pesantren dan menerima kebudayaan barat lewat bahasa sumbernya. Jadi, ke belakang, ia tak dapat lepas dari dogma agama, ke depan terbentang harapan tentang manusia Indonesia yang tak dapat menghindar pengaruh Barat.
Tarik-menarik antara masa lalu yang religius—dogmatis dan masa depan yang profan—liberal lalu dianggap sebagai pergulatan Timur—Barat. Puncaknya terjadi zaman Pujangga Baru. Itulah Polemik Kebudayaan, meski AKM tak terlibat langsung. Sambil menyetir gagasan Sutan Sjahrir (Pengantar Polemik Kebudayaan, 1948) sikap AKM tegas: “… kini tak usah pilih-pilih antara Timur (yang feodalistik) dan Barat (yang kapitalistik), sebab kedua-duanya akan silam dan sekarang ini sedang tenggelam ke masa silam.” AKM diterjang kegelisahan. Ia harus bersikap. Atheis (1949) itulah saluran kegelisahannya.
Dari sekian banyak karyanya, novel  “Atheis “ bisa dibilang adalah karyanya yang paling penting. Novel yang diterbitkan pada tahun 1949 ini mengisahkan kegelisahan manusia mencari pegangan hidup di tengah pergeseran nilai dalam masyarakat.  Novel ini menimbulkan perdebatan dalam masyarakat sejak penerbitannya yang pertama. Meski begitu, novel yang merupakan salah satu puncak karya sastra Indonesia modern ini telah berulang kali dicetak. RJ Maguire bahkan menerjemahkan novel ini ke Bahasa Inggris pada 1972 dan sutradara Sjumandjaja juga pernah mengangkatnya ke layar lebar pada 1974 dengan judul yang sama, yaitu Atheis. Berkat novel Atheis ini, Achdiat dianugerahi Hadiah Tahunan Pemerintah RI pada tahun 1969. Sebelumnya, pada 1957, kumpulan cerpennya yang diberi judul Keretakan dan Ketegangan mendapat hadiah Sastra Nasional Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar