Dalam novel ‘Atheis’ karya Achdiat
K. Mihardja menceritakan tentang perjalanan hidup seseorang bernama Hasan yang
lahir dari sebuah keluarga yang sangat taat kepada agamanya yaitu Islam.Hasan
adalah anak tunggal dari pensiunan manteri guru yang tinggal di lereng gunung
Telaga Bodas ditengah-tengah pegunungan priangan yang indah bernama kampung
panyeredan di wilayah Bandung yang pada waktu itu masih dalam keadaan dijajah
pemerintahan Jepang.
Kedua orang tua Hasan semakin bangga
melihat Hasan tumbuh dewasa dengan kadar keimanan yang cukup tinggi,
kebahagiaan dan kebanggaannya bertambah ketika Hasan berniat untuk pergi
memperdalam ilmu tarekat pada kiayi Mahmud seperti yang dilakukan oleh kedua
orang tuanya dulu. Keimanannya semakin meningkat setelah Hasan menimba ilmu
disana dan mengamalkannya dalam setiap langkah hidupnya. Setelah Hasan merasa
cukup dengan ajaran-ajaran dari kiayi Mahmud dan orang tuanya, maka setelah ia
sekolah, Hasan pun bekerja disebuah kantor milik Jepang. Kini Hasan harus
terpisah dengan kedua orang tuanya, karena pekerjaannya berada didaerah yang
jauh dari desa tempat kelahirannya dulu. Walaupun Hasan jauh dari kedua orang
tuanya dan bekerja pada orang-orang Jepang tetapi Hasan masih memegang teguh
agamanya dan masih menjadi pribadi dengan keimanan yang kuat.
Suatu ketika,Hasan sedang bekerja
pada loketnya,Hasan bertemu sahabat lamanya bernama Rusli, dia teman kecil
Hasan yang telah meraih kesuksesan dan memiliki pengalaman hidup yang
luas.Dalam waktu yang bersamaan,Rusli mengenalkan seorang perempuan bernama
Kartini yang bersamanya pada waktu itu kepada Hasan.Ketiganya saling
bercakap-cakap sampai pada titik kesimpulan bahwa Hasan disuruh berkunjung
kerumah Rusli yang tidak jauh dari perumahan yang ditempati Hasan.Hasan pun
sering datang kerumah Rusli,Kartini pun selalu ada disana.Hasan sangat senang
bertemu dengan sahabat lamanya itu,ditambah lagi dengan adanya Kartini yang
menurut Hasan adalah sesosok perempuan yang sangat mirip dengan
Rukmini,kekasihnya dulu pada waktu dikampung.Baginya Kartini adalah jelmaan
yang dikirim Tuhan untuk menggantikan Rukmini yang telah pergi dari
kehidupannya.
Meskipun Hasan bahagia dengan
sahabat lamanya itu,tapi semua kebahagiaan itu belum cukup karena ternyata
kedua temannya itu mempunyai keyakinan yang berbeda dengan dirinya,mereka
beranggapan bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak ada.Hal itulah yang membuat Hasan
berniat untuk mengIslamkan kedua temannya itu,tapi niat baiknya itu semakin
terkikis oleh kebaikan Rusli dan Kartini,Hasan sedikit melalaikan niat awalnya
itu karena sering berdiskusi tentang berbagai hal dengan Rusli ataupun
Kartini.Walaupun niat Hasan mulai luntur tapi dia masih taat pada ajaran
Agamanya.Selain berkunjung kerumah Rusli,Hasan pun sering diajak pergi ke
Restoran oleh Rusli dan Kartini.Mereka selalu pergi bertiga hingga perasaan
lain pun datang kepada Hasan untuk Kartini,dia pun menerima perasaan
Hasan.Sejak saat itu mereka semakin dekat dan akrab,tapi sering pula Hasan
berfikir,mengeluh,hatinya bimbang,terombang-ambing antara dua pilihan.Tetap
berada di jalan yang telah diajarkan oleh orang tuanya sejak kecil yaitu jalan
Agama atau memasuki dunia yang baru saja ia kenal dari sahabatnya Rusli dan
Kartini namun telah menariknya dengan kuat menjadi seorang Atheis.
Kehadiran Kartini mengubah seluruh
hidup Hasan,berusaha menyesuaikan diri dengan pergaulan Kartini dan paham yang
diyakininya,Hasan mengalami berbagai konflik yang menyebabkan pertentangan
hebat didalam batinnya.Masalah meruncing ketika muncul Anwar,seorang seniman
dan sekaligus teman Rusli,Anwar dikenalkan Rusli kepada Hasan dan Kartini
ketika mereka berada disebuah Restoran.Sejak saat itu Hasan telah mengetahui
bahwa Anwar menaruh hati kepada Kartini.Mengetahui keadaan seperti itu,akhirnya
Hasan menikahi Kartini yang sudah menjadi cita-citanya dari sejak ia
mengenalnya.Awalnya Hasan ingin menuntun istrinya itu menjadi seorang muslimah
dengan satu keyakinan dalam rumah tangga yang baru saja ia masuki.Tapi semua
harapan itu hilang ketika Kartini sering meninggalkan rumah setelah beberapa
bulan pernikahan,hal itu terjadi karena satu permasalahan antara Kartini dengan
orang tua Hasan yang memang dari semula tidak pernah menyetujui pernikahan
mereka karena Kartini seorang Atheis.
Rumah tangga yang semula diselimuti
kabahagiaan harus berakhir dengan perceraian,Hasan pun menceraikan Kartini
karena dia beranggapan bahwa Kartini telah berselingkuh dengan Anwar,dia selalu
pergi dengan Anwar ketika meninggalkan rumah.Begitulah pemikiran Hasan yang
pada saat itu keadaannya yang sedang sakit TBC,dia sangat sedih dan menyesal
karena dia sudah melukai hati kedua orang tuannya dengan menjadi Atheis dan
menikahi Kartini yang akhirnya Ayah Hasan harus meninggal dunia dengan membawa
penyesalan yang mendalam karena perbuatan anaknya, Hasan.Hasan sangat menyesal
dengan apa yang telah dipilih dalam hidupnya, dengan penyakit TBC yang
dideritanya ditambah dengan penyesalan yang sangat dalam maka Hasan pun semakin
lemah dan harapannya telah kosong. Hidupnya berakhir apda peluru yang
ditujukkan kepadanya ketika dia berjalan sempoyongan di jalan oleh tentara
Jepang yang pada waktu itu sedang mambabi buta di jalanan sekitar perumahannya.
Hasan pun tersungkur bermandikan darah dengan melepas kata “ALLAHU AKBAR “ tak
bergerak lagi.
ANALISIS
UNSUR INTRINSIK NOVEL ATHEIS
KARYA
ACHDIAT KARTA MIHARJA
Fakta
Cerita:
1)
Tokoh dan penokohan
a. Hasan
· laki -laki biasa yang sederhana dan tubuhnya
kurus
Bukti kutipan:
Seperti namanya pula, rupa, dan tampang
Hasan pun bisa sederhana. Hanya badannya kurus, dan karena kurus itulah maka
nampaknya seperti orang yang tinggi, mata, dan pipinya cekung portrayal of
throught steam. ( Atheis, 1949: 7 )
·
seorang
yang kurng teguh pendiriannya
Bukti kutipan:
Dia seorang pencari. Dan sebagai
seorang pencari, maka ia selalu terombang – ambing dalam kebimbangan dan
kesangsian. ( Atheis, 1949: 7 )
·
seorang
yang fanatik dengan agamanya
Bukti kutipan:
… berpuasa tujuh hari tujuh malam.
Hasan kemudian menyelesaikan ritualnya mandi di kali Cikapundang selama 40
kali, satu malam dan sembahyang Isya sampai shubuh. (Atheis, 1949: 24-25 )
b. Kartini
·
korban
Siti Nurbaya dipaksa kawin oleh ibunya dengan seorang rentenir Arab tua yang
kaya.
Bukti kutipan:
…… Kartini itu telah dipaksa kawin
oleh ibunya dengan seorang rentenir Arab yang kaya raya. ( Atheis, 1949: 34 )
·
Kartini
seorang yang berideologi tegas dan radikal.
Bukti
kutipan:
……
pengalamannya yang pahit itulah telah membikin dia menjadi srikandi yang
berideologi tegasdan radikal. ( Atheis, 1949: 35 )
c. Rusli
·
Rusli
adalah teman kecil dari Hasan. Dari kecil Rusli adalah anak yang nakal, jarang
sembahyang.
Bukti
kutipan:
Rusli
itu adalah seorang kawanku ketika kecil. ( Atheis, 1949: 35 )
………
yaitu kalau rusli nakal, dan aku sebahyang. ( Atheis, 1949: 35 )
·
Rusli
juga seseorang yang dapat menghargai orang lain dan sopan.
Bukti
kutipan:
Tentu saja saudara Hasan tidak akan membiarkan pendapat saya
itu. Itu saya dapat mengerti dan hargai, dan memang tak asah saudara Hasan
menerima segala apa yang saya katakan itu. ( Atheis, 1949: 78 )
·
Rusli
seorang yang mudah mempengaruhi orang lain.
Bukti
kutipan:
…….
Bertambah banyaklah aku tertarik oleh uraian rusli yang suka sekali membawa aku
berpiker tentang pelbagai soal hidup, baik soal – soal kemasyarakatan, politik,
ekonomi, dan lain – lain yang selama itu tidak pernah menjadi soal bagiku. (
Atheis, 1949: 112 )
·
Rusli
juga seorang Atheis ( tidak percaya akan adanya Tuhan dan agama ).
d. Anwar
·
Anwar
adalah rekan dari Rusli dan Kartini. Anwar adalah seniman anarkhis dan ramah.
Seperti dikutip, bagaimana fisik dari Anwar
Bukti
kutipan:
Perkenalkan
dulu. Saudara Anwar, seniman anarkis dari Jakarta ( Atheis, 1949: 105 )
·
Laki-laki
yang cakap rupanya dan sipit matanya
Bukti
kutipan:
Ia
pemuda yang cakap rupanya. Kulitnya kuning seperti kulit orang Cina dan matanya
pun agak sipit. Mungkin ia keturunan Cina/ Jepang. Ia berkumis kecil seperti
sepot sapu lidi masuk ter dan janggutnya jarang – jarang seperti akar yang
liar. Rambutnya belum bercukur…….. ( Atheis, 1949: 105 )
·
Orang
yang selalu beranggapan bahwa dirinya adalah Tuhan
Bukti
kutipan:
Kalau
menurut saya, “sambung Anwar” Tuhan itu adalah aku sendiri (telunjuknya (sendiri
menusuk dadanya ) ( Atheis, 1949: 109 )
·
Anwar
adalah individualis anarkhis dan suka memaksakan kehendaknya.
Bukti
kutipan:
Ia
suka sekali mendesak – desakkan kehendak atau pendapatnya sendiri. Dalam hal ia
selalu agresif. Selalu polemis dan mengemukakan dirinya sendiri, seolah – olah
dialah saja yang paling pintar, paling benar dan tak diinsyafinya agaknya,
bahwa kebenaran itu terlalu besar untuk dimonopoli oleh hanya 1 orang saja,
seorang Anwar. ( Atheis, 1949: 137)
e. Orang tua Hasan
·
Sangat
cinta pada anaknya
Bukti
kutipan:
Orang
tuaku sangat cinta keadaku dan Fatimah ( Atheis, 1949: 15)
·
Orang
yang saleh dan alim
Bukti
kutipan:
Ayah
dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh dan alim. ( Atheis, 1949: 11)
f. Siti
·
Siti adalah seorang
babu yang soleha.Dia juga seorang babu yang memiliki iman yang cukup kuat.Ia
sangat pandai dalam mendongeng.
Bukti kutipan:
Siti suka sekali
mendongeng , dan sebagai biasanya pandai pula ia mendongeng. Dan yang biasa di dongengkannya itu dongeng yang
hidup subur di antara para santri itu. ( Atheis, 1949: 18)
g. Nata
·
Seorang
pembantu laki-laki, dia adalah suaminya siti. Dan nata adalah seorang santri
yang cukup taat.
Bukti
kutipan:
…….
Maka babu dan bujang pun terdiri dari sejodoh orang-orang alim juga.
(
Atheis, 1949: 18)
h. Haji Dahlan
·
Haji Dahlan adalah
seorang haji yang berasal dari banten.Nama aslinya sebelum jadi haji adalah
Wiranta.Haji Dahlan merupakan seorang haji yang memiliki ilmu atau pandangan
yang cukup luas tentang ajaran agama Islam.
Bukti kutipan:
.............seorang
haji dari Banten. Haji Dahlan begitu nama orang ini setelah memakai sorban.
Dulunya ia bernama Wiranta. (
Atheis, 1949: 11)
i.
Bung
Parta
·
Bung Parta adalah
seorang tokoh pergerakan. Ia sangat pandai menyampaikan atau mengemukakan
gagasan tentang dunia pergerakan. Dalam menyampaikan pandangan-pandangannya
itu, ia sering menggunakan lelucon untuk lebih meresap apa yang disampaikannya
itu, sehingga lebih mudah diterima oleh pendengarnya.
Bukti kutipan:
Ia turut aktif bergerak
di kalangan serikat buruh perkapalan yang corak internasional, ( Atheis, 1949: 120)
Kalauu
Bung Parta melucu, Anwarlah yang paling keras tertawa. ( Atheis, 1949: 121)
2)
Latar
atau setting
v
Latar
tempat
·
Tempat
penceritaan novel adalah di Jawa Barat dan khususnya di Kota Bandung.
Bukti kutipan:
Di
lereng gunung Telaga Bodas di tengah – tengah pegunungan Priangan yang indah,
terletak sebuah kampung, bersembunyi di balik hijau pohon – pohon jeruk Garut,
( Atheis, 1949: 10)
Aku
tunduk saja. Mengerti aku, bahwa orang tuaku itu takut kalau – kalau aku akan
menjadi buaya atau akan tersesat ke jalan pelacuran. Maklumlah kota Bandung. ( Atheis, 1949: 21)
Stasiun Bandung sudah samar-samar
diselimuti oleh senja, ketika kereta api dari Cibatu masuk. Matahari sedang
mengundurkan diri, pelan – pelan dan hati – hati seperti pencuri yang hendak
meninggalkan kamar untuk menghilang ke dalam gelap.
Kota
Bandung tidak seperti tiga tahun yang lalu. Pada senja hari yang indah seperti
itu, di zaman yang lalu kota itu seolah – seolah mulai berdandan. Lampu – lampu
listrik di jalan – jalan, di toko – toko dan di rumah – rumah mulai dipasang,
seakan – akan manusia bersedia – sedia untuk mulai berjuang membantu Ormurd,
dewa terang, dalam perjuangannya yang abadi melawan Ahtiman, dewa gelap.
(
Atheis, 1949: 225)
Penginapan
dekat stasiun
Bukti
kutipan: ….. supaya malam itu ia nginap saja disebuah penginapan dekat stasiun.
( Atheis, 1949: 218)
·
Di
dalam rumah
Rumah
Rusli Kebon Mangga 11
Bukti
kutipan: sore itu,kawan-kawan berkumpuldi rumahnya Rusli ( Atheis, 1949: 120)
Di
rumah orang tua Hasan
Bukti
kutipan: ibu di dapur segera diberi tahu tentang niatku itu. ( Atheis, 1949: 21)
tiga malam haji dahlan menginap di rumah orang
tuaku. ( Atheis, 1949: 11)
v Latar waktu
·
Latar
waktu cerita ini terjadi dari tahun 1940 – an ketika Belanda dan Jepang mulai
memperebutkan Indonesia sebagai tanah jajahannya. Sampai massa menjelang
proklamasi kemerdekaan ketika perang dunia II mulai. Hal ini dibuktikan dari
tanggal pernikahan Hasan dan Kartini yaitu tanggal 12 Februari 1941. dan
dijelaskan dalam novel pada halaman 177 bahwa pemerintah Hindia – Belanda tekuk
lutut kepada kekuasaan balatentara Dai Nippon dengan tidak memakai syarat apa –
apa. Selain itu, akhir hayat Hasan, dia dibunuh oleh Kusyu Heiho ( yaitu
tentara Jepang ) karena dianggap mata – mata.
·
Sore
hari sore
Bukti kutipan: agak panas sore ini, kata Rusli. ( Atheis,
1949: 38)
·
Waktu
magrib
Bukti
kutipan: sampai di rumah, magrib menyambut aku dengan tabuh.
( Atheis, 1949: 42)
·
Siang
hari
Bukti
kutipan: hari Sabtu kantor-kantor pemerintah hanya bekerja sampai jam satu
siang. ( Atheis, 1949: 103)
·
Hari
Minggu
Bukti
kutipan: Hari Minggu. Jendela-jendela dan tingkap-tingkap kaca di serambi muka
ku buka luas-luas. ( Atheis, 1949: 89)
v Latar suasana
·
Religius
Bukti
kutipan: Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh alim. Sudah sedari
kecil jalan hidupnya ditempuhya dengan tasbeh dan mukena. Iman Islamnya sangat
tebal ( Atheis, 1949: 11)
·
Mengharukan
Bukti
kutipan: …………… badan yang lemah itu berguling- guling sebentar di atas
aspal,bermandi darah. Kemudian dengan bibir melepas kata “ALLAHU AKBAR” Tak
bergerak lagi….. ( Atheis, 1949: 250)
3) Alur
Alur novel
ini disajikan secara sorot balik ( flash back ), sebuah gebrakan baru era tahun
’45.
Alur dalam cerita novel atheis dapat digambarkan sebagai
berikut:
[ C { B ( A ) B } C ]
Bagian A
merupakan bagian dari novel yang berisi riwayat pelaku utama ( tokoh utama ),
yaitu Hasan. Bagian ini bermula dari bab III sampai bab XII, yaitu dikisahkan
dalam bentuk “aku”, yaitu Hasan.
Bagian B,
baik sebelum maupun sesudah A merupakan kisah pertemuan dan perbincangan
pengarang dengan Hasan. Bagian ini diceritakan juga dalam bentuk “aku”, tetapi
“aku” adalah pengarang bukan Hasan. Bagian – bagian ini hanya sedikit, B yang
pertama meliputi bab II, sedangkan B yang kedua meliputi bab XII. Bab XII ini
merupakan pertemuan pengarang dengan Kartini, ketika Hasan menghilang.
Sedangkan bagian C kedua – duanya merupakan cerita pengarang tentang Hasan yang
diperolehnya dari teman – teman dekat Hasan. Bagian C pertama terdiri atas bab
I, yang hakikatnya merupakan kelanjutan bagian C kedua yang terdiri atas bab
XIV dan XV. Maksudnya adalah bagian C terakhir ( bab XIV dan XV ) merupakan bagian
ketika Hasan meninggalkan rumah dan mencari Anwar dengan penyakitnya yang tak
kunjung sembuh, kemudian Hasan ditembak mati oleh tentara Jepang dan di bagian
C pertama adalah Kartini, Rusli, dan pengarang mendapatkan kabar kematian
Hasan. Ceritanya dibalik menjadi alur sorot balik.
Sarana Cerita :
1.
Judul
: Aitheis
Menurut saya judul atheis ini
sengaja dimbil karena di dalam novel ini menceritakan tokoh-tokoh yang tidak
memiliki agama (atheis). Karena pada bagian inilah yang sangat menarik dari
novel ini, di bagian tersebut banyak terjadi konflik atau salah faham antara
Hasan yang memegang teguh agama yakni islam dengan Rusli orang yang memiliki
faham yang berbeda dengan Hasan dan dia seorang atheis pula, di tambah lagi
kedatangan Anwar yang menambah seru keadaan yang menganggap bahwa dirinya
adalah tuhan. Dengan berjalannya waktu setelah lama Hasan bergaul dengan mereka
semua, keyakinan tentang agama yang telah di peluknya sejak kecil semakin lama
semakin hilang dan dia juga ikut seperti rekan-rekannya menjadi seorang yang
atheis.
2. Sudut Pandang: sudut pandang adalah
cara seorang penulis melukiskan cerita dalam karyanya, bagaimana ia menempatkan
dirinya pada saat menceritakan kejadian tersebut.
Sudut pandng yang digunakan dalam
novel “Atheis” adalah metode orang pertama
sertaan. Hal ini kita temukan dalam novel “Atheis”, yaitu penggambaran tokoh
menggunakan kata aku.Cerita ini sungguh membingungkan bila kita tidak
membacanya dengan sungguh-sungguh.Cerita ini megisahkan tentang Hasan.Kisahnya
ini dikarang oleh Hasan sendiri dan disampaikan kepada penulis. Jadi dengan
melihat kenyataan tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pengarang
menyampaikan cerita dari orang lain.
3. Gaya Bahasa
Gaya bahasa
yang digunakan oleh Achdiat Karta Mihardja dalam menulis novel ini adalah
banyaknya digunakan bahasa-bahasa asing seperrti bahasa Jepang,selain itu Novel ini banyak menggunakan gaya bahasa perbandingan. Hal ini terlihat
dari beberapa kalimat yang digunakan yaitu membandingkan sesuatu dengan orang. Banyak
lagi kalimat yang menggunakan majas perbandingan.Sehingga novel ini sangat
menarik dan indah untuk dibaca.
a) Simile (perumpamaan)
Simile atau perumpamaan
adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan, tetapi sengaja
dianggap sama. Pada novel “Atheis” karya Achdiat K. Mihardja, gaya bahasa ini
terlihat pada dialog-dialog antar tokoh.
Bukti kutipan: orang yang banyak dosanya di dunia ini akan
merangkak-rangkak seperti siput di ata seutas benang yang tajam. ( Atheis, 1949: 18)
b) Hiperbola
Hiperbola adalah majas
yang mengandung suatu pernyataan yang berlebih-lebihan.Maksudnya adalah untuk
memberikan penekanan pada suatu pernyataan atau untuk memperhebat, mengingatkan
kesan, menarik perhatian, dan sebagainya. Bukti kutipan : semuanya kelihatannya sangat lesu juga.
Serupa onggokan-onggokan daging juga yang tak berdaya apa-apa pula.
(
Atheis, 1949: 1)
Tema Ceita : Makna karya
Tema adalah pokok pembicaraan dalam sebuah
cerita, cerita itu sendiri bukan hanya sekedar rentetan kejadian yang disusun
dalam sebuah bagan, tetapi susunan bagan itu sendiri harus mempunyai maksud
tertentu. Tema yang diangkat dalam novel “ Atheis” ini adalah persoalan manusia dengan Tuhan Yang
Maha Esa. Novel Atheis ( 1949 ) karya Achdiat K. Mihardja adalah karya sastra
yang mengetengahkan perkembangan awal abad ke – 20, yakni pergeseran gaya hidup
tradisional ke gaya hidup yang modern. Atheis menyoroti kebiasaan umum dalam
menanamkan ajaran Islam secara dogmatis. Atheis mengambil tema benturan
Islamisme yang ditanamkan secara dogmatis melawan komunisme. Sifat keberagamaan
dalam novel ini terasa begitu kental hampir di setiap bagiannya. Bukti kutipan
: Sesungguhnya, semua itu meminta cara. Meminta cara oleh karena hidup di dunia
ini berarti menyelenggarakan segala perhubungan lahir batin, antara kita
sebagai manusia dengan sesama makhluk kita dengan alam beserta pencintanya. Dan
penyelenggaraan semua perhubungan itu meminta cara. Cara yang sebaik – baiknya,
seadil – adilnya, seindah – indahnya, setepat – tepatnya, tapi pun sepraktis –
praktisnya, dan semanfaat – manfaatnya bagi kehidupan segenapnya. ( Atheis,
1949: 3)
UNSUR EKSTRINSIK NOVEL ATHEIS KARYA
ACHDIAT KARTA MIHARJA
A.
Latar Belakang Keagamaan
Agama menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia
adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada
Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan
manusia dan manusia serta lingkungannya. Sebuah karya sastra bisa dikatakan
berhubungan erat dengan kepercayaan. Karya sastra
sebagai struktur yang kompleks, yang di dalamnya menyoroti berbagai segi
kehidupan termasuk masalah keagamaan patut kita gali untuk diambil manfaatnya.
Sebelum kita menggalinya, terlebih dahulu kita harus mengetahui
kriteria-kriteria religus dalam sebuah karya sastra. Atmosuwito (1987-124)
mengemukakan kriteria-kriteria religius sebuah karya sastra:
(1) Penyerahan diri, tunduk dan taat kepada sang pencipta.
(2) Kehidupan yang penuh kemuliaan.
(3) Perasaan batin yang ada hubungannya dengan Tuhan.
(4) Perasaan berdosa.
(5) Perasaan takut.
(6) Mengakui kebesaran
Tuhan.
Dalam segi agama novel Atheis menyuguhkan dua
macam kelompok masyarakat yang berlainan kepercayaan. Kelompok masyarakat
pertama ialah kelompok masyarakat yang mempercayai adanya Tuhan ( Theis ) dan
sangat taat beribadah dalam memeluk agama Islam, sedangkan kelompok masyarakat
kedua ialah kelompok masyarakat yang tidak mempercayai adanya Tuhan ( Atheis ),
melainkan menganggap mesin atau teknologi sebagai Tuhan mereka. Hal tersebut dapat diketahui dalam
kutipan dibawah ini:
“
Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh dan alim. Sudah sedari kecil
jalan hidup yang ditempuhnya dengan tasbih dan mukena. Iman islamnya sangat
tebal. ...” ( Atheis, 1949: 11)
Sangat berbanding terbalik dengan teman-teman dari tokoh
utama yang tidak percaya akan adanya tuhan. Seperti dalam kutipan berikut ini:
“Tuhan itu tidak ada. Yang ada ialah teknik. Dan itulah Tuhan
kita! Sebab tekniklah yang memberi kesempatan hidup kita.” ( Atheis, 1949: 123).
Berdasarkan alur cerita yang disajikan oleh Achdiat bahwa
novel ’’Atheis’’ menonjolkan tiga bentuk manusia, pertama manusia yang theis.
Manusia ini adalah tipe manusia yang sangat teguh pendiriannya terhadap ajaran
yang percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa. Manusia semacam ini menunjuk pada diri
raden Wiradikarta (ayah kandung Hasan). Dia sosok manusia yang percaya dan
teguh terhadap ajaran. Baginya ajaran tak bisa dikompromikan. Hl semacam ini
juga terdapat pada para kyai seperti guru Hasan. Kedua, manusia yang Atheis
yaitu manusia yang benar-benar tidak percaya adanya Tuhan.Yang menjadi contoh
manusia seperti ini adalah Rusli yang berpaham marxisme dan Anwar yang berpaham
anarkis. Sedangkan ketiga adalah tipe manusia yang tidak duanya, yaitu tidak
theis dan juga atheis. Manusia seperti ini ada pada diri Hasan. Ia
terombang-ambingkan antara theis dan dan atheis. Ia ragu dan bimbang. Ajaran
yang lama menjadi goyah dan ajaran yang baru belum meresap sepenuhnya.
Achdiat membuka pintu baru dalam novel “Atheis” yang
membicarakan tentang jiwa manusia karena pengaruh ajaran ( isme ) Di sinilah
yang menjadi ciri khas Achdiat dalam novel ini. Sehingga novel “Atheis” menjadi
besar dalam sastra indonesia. Achdiat pernah mempelajari filsafat dan
mempelajari mistik (tarikat) aliran Kadariyah Naksabandiah dari Kiyai Abdullah
Mubarak yang terkenal juga dengan nama Ajengan Gedebag, oleh karena itu dapat
pula dikatakan bahwa terciptanya novel atheis berasal dari pandangan-pandangan
yang lahir dari Achdiat Kartamihardja. Hal tersebut memberikan pesan bahwa kita
harus mempunyai pendirian terhadap kepercayaan (agama). Dan harus mau
mendalaminya agar tidak mudah digoyahkan dengan ajaran-ajaran baru yang
menganggap bahwa tuhan itu tidak ada.
B. Latar
Belakang Sosial
Karya sastra lahir di tengah-tengah
masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksi terhadap
gejala-gejala sosial di sekitarnya. Kehadiran karya sastra merupakan bagian
dari kehidupan masyarakat. Pengarang sebagai objek individual mencoba
menghasilkan pandangan dunianya kepada objek kolektifnya. Penggabungan objek
individual terhadap realitas sosial yang ada di sekitarnya menunjukkan sebuah
karya sastra berakar pada kultur masyarakat tertentu. Keberadaan sastra yang
demikian, menjadikan sastra dapat diposisikan sebagai dokumen. (Pradopo dalam
Jabrohim 2001: 59).
Karya sastra berfungsi untuk
menginventarisasikan sejumlah kejadian yang ada di masyarakat. Seluruh kejadian
dalam karya sastra merupakan prototipe kejadian yang pernah dan mungkin terjadi
pada kehidupan sehari-hari. Sebagai fakta kultural, karya sastra dianggap
sebagai representasi kolektif yang secara umum berfungsi sebagai sarana untuk
memperjuangkan aspirasi dan kencenderungan komunitas yang bersangkutan.
Kedudukan sastra dalam kecenderungan ini sangat penting, terutama untuk
mengangkat harkat dan martabat manusia dalam gejala yang selalu berubah.
Pengarang menciptakan karya sastra berdasarkan kenyataan yang terjadi di
sekitarnya. Oleh karena itu, karya sastra dapat diartikan sebagai suatu
gambaran mengenai kehidupan sehari-hari di masyarakat. Adanya realitas sosial
dan lingkungan yang berada di sekitar pengarang menjadi bahan dalam menciptakan
karya sastra sehingga karya sastra yang dihasilkan memiliki hubungan yang erat
dengan kehidupan pengarang maupun dengan masyarakat yang ada di sekitar
pengarang.
Berkaitan dengan novel Atheis, bahwa
di dalam perkembangan dan pertumbuhan masyarakat yang semakin maju maka semakin
pudarnya nilai-nilai agama, sehingga rasa keragu-raguan mudah tumbuh karena
kurang kuatnya pendirian apabila sudah menyangkut tentang perasaan. Dalam pembahasan
novel Atheis ini kita dapat mengambil sebuah pelajaran tentang bagaimana kita
bersikap dan kehati-hatian dalam bertindak, apabila sudah menyangkut hal yang
pribadi seperti kepercayaan dan perasaan terhadap lawan jenis.
Pada masa penjajahan Jepang faham-faham
barat mulai berkembang sejak zaman kesusastraan pujangga baru, perkembangan
faham barat semakin luas di kalangan cendikia-cendikia bangsa. Salah satu yang
berkembang sangat cepat saat itu adalah ideologi marxis yang dilahirkan sebagai
sebuah konsep pemikiran untuk melawan ketidakadilan cara hidup masyarakat
kapitalis oleh seorang Jerman bernama Karl Marx dan kemudian dipraktekkan
dengan kejam oleh Lenin setelah melalui perombakan faham komunisme dari Lenin.
Bangsa Indonesia pada zaman itu
mempunyai pengaruh dalam perkembangan gerakan komunis yang bercampur dengan
pengertian ideologi marxis dengan mengawali gebrakan-nya lewat pemberontakan
Madiun 1948. Bisa dipahami bahwa pada masa-masa penjajahan Jepang perkembangan
dan pengaruh pemikiran dan idiologi berkembang sangat pesat karena dalam rangka
pembebasan bangsa Indonesia dari masa penjajahan, sebagaimana pula cerita novel
Atheis ini, merupakan gerakan-gerakan awal dari komunitas-komunitas yang masih
berupa aksi kecil dan forum tukar pikiran demi membina kemapanan pemahaman
ideologi yang dikembangkan.
Pada masa-masa itu juga, paham
keagamaan tradisional masyarakatnya mulai berhadapan dengan gaya hidup barat
yang sangat terbatas dikenalkan oleh Belanda dan ideologi komunis, yang
sebaliknya sangat merakyat disebarkan oleh pemikir-pemikir muda. Namun, sejarah
membuktikan bahwa kemudian komunis dihancurkan
untuk selama-lamanya dari bumi indonesia pada ujung peristiwa G30S/PKI
tahun 1965.
Novel ini menggambarkan situasi
sosial (dalam) pada masa itu (sehingga ia juga berupa rekaman sejarah dalam
beberapa hal), dan memperlihatkan suatu kondisi psikologis yang ada pada sebuah
individu yang hidup pada masa itu. Diceritakan dalam novel bagaimana tokoh
Hasan menderita beban pikiran sebab dia mulai dirasuki pemikiran marxis yang
bertentangan dengan keyakinan tradisionalnya selama ini. Kemudian dia juga
harus pula mewujudkan benih-benih cintanya pada Kartini yang membuat dia
memaksakan diri untuk tetap bergabung dalam komunitas tersebut. Lalu, ternyata
mendapatkan Kartini pun tidak membuat bahagia bagi Hasan. Sebagai makhluk yang
ternyata tetap tak bisa menghilangkan cara pikir konservatifnya, Hasan berpisah
dengan Kartini. Namun, belum berpisah dengan ke marxis-annya.
Situasi seperti ini menggambarkan
pula bagaimana salah satu episode kemelut hidup yang mungkin dihadapi oleh
seorang anak bangsa pada masa itu. Sejarah menceritakan bagaimana marxis
dihabisi di bumi pertiwi dan kehidupan orde baru tidak memberi tempat bagi
kekalahan cara pikir tradisional seperti yang terjadi dalam novel ini. Akhir
hidup tragis yang dialami oleh tokoh Hasan barangkali dijadikan suatu alasan
bagi otoritas ideologi dewasa ini untuk tetap mempublikasi karya ini, sebagai
peringatan bukan teladan. Dan ideologi marxis tetap jadi masalah hingga dewasa
ini bagi pandangan hidup tradisional masyarakat Indonesia yang malah berusaha
menuju sistem hidup kapitalis.
C.
Latar Belakang Kehidupan Pengarang
Achdiat Karta Mihardja lahir di Cibatu, Garut, 6 Maret 1911
dan meninggal di Canberra, Australia, 8 Juli 2010 pada umur 99 tahun.
Pendidikannya Ia lalui di AMS (Algemene Middelbare School) bagian A1 (Sastra
dan Kebudayaan Timur) di Solo pada 1932 kemudian di Fakultas Sastra dan
Filsafat Universitas Indonesia (1948-1950). Ia juga mempelajari ajaran mistik (tarekat)
aliran Qadariyah Naqsabandiyah dari Kiyai Abdullah Mubarak yang terkenal juga
dengan nama Ajengan Gedebag. Selain itu belajar filsafat pada pater Dr. Jacobs
S.J., dosen pada Universitas Indonesia, dalam Filsafat Thomisme.
Pada masa sebelum tahun 1945 Achdiat adalah wartawan dan
pegawai Balai Pustaka. Setelah tahun itu dia akrab bergaul dengan Chairil Anwar
dan kalangan orang-orang Republik. Dalam berpolitik ia lebih cenderung pada
Sjahrir. Ketika suasana menghangat dalam masa Orde Lama, ia pindah ke
Australia, dan seterusnya bermukim di Canberra. Hanya seorang anaknya yang kini
tinggal di Indonesia.
Karya sastra Achdiat umumnya menyoroti tingkah laku manusia
dari segi-segi kelemahannya. Plot-plot ceritanya biasanya menarik, dengan
penempatan tokoh-tokohnya dalam situasi tidak biasa. Dari situasi demikian ia
mengupas kelemahan-kelemahan dasar manusia yang bersifat universal (umum).
Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga Islam
tradisional yang taat, Achdiat Karta Mihardja (AKM) berhadapan dengan
kebudayaan barat melalui pendidikan belanda. Ia menyerap suasana religius
kehidupan pesantren dan menerima kebudayaan barat lewat bahasa sumbernya. Jadi,
ke belakang, ia tak dapat lepas dari dogma agama, ke depan terbentang harapan
tentang manusia Indonesia yang tak dapat menghindar pengaruh Barat.
Tarik-menarik antara masa lalu yang religius—dogmatis dan
masa depan yang profan—liberal lalu dianggap sebagai pergulatan Timur—Barat.
Puncaknya terjadi zaman Pujangga Baru. Itulah Polemik Kebudayaan, meski AKM tak
terlibat langsung. Sambil menyetir gagasan Sutan Sjahrir (Pengantar Polemik
Kebudayaan, 1948) sikap AKM tegas: “… kini tak usah pilih-pilih antara Timur
(yang feodalistik) dan Barat (yang kapitalistik), sebab kedua-duanya akan silam
dan sekarang ini sedang tenggelam ke masa silam.” AKM diterjang kegelisahan. Ia
harus bersikap. Atheis (1949) itulah saluran kegelisahannya.
Dari sekian banyak karyanya, novel “Atheis “ bisa dibilang adalah karyanya yang
paling penting. Novel yang diterbitkan pada tahun 1949 ini mengisahkan
kegelisahan manusia mencari pegangan hidup di tengah pergeseran nilai dalam
masyarakat. Novel ini menimbulkan
perdebatan dalam masyarakat sejak penerbitannya yang pertama. Meski begitu, novel
yang merupakan salah satu puncak karya sastra Indonesia modern ini telah
berulang kali dicetak. RJ Maguire bahkan menerjemahkan novel ini ke Bahasa
Inggris pada 1972 dan sutradara Sjumandjaja juga pernah mengangkatnya ke layar
lebar pada 1974 dengan judul yang sama, yaitu Atheis. Berkat novel Atheis ini,
Achdiat dianugerahi Hadiah Tahunan Pemerintah RI pada tahun 1969. Sebelumnya,
pada 1957, kumpulan cerpennya yang diberi judul Keretakan dan Ketegangan
mendapat hadiah Sastra Nasional Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar